BESUKI, Radar Tulungagung – Perayaan larung sembonyo di Pantai popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, tahun ini tidak semeriah tahun sebelumnya. Hal itu karena adanya pandemi Covid-19 yang terpaksa dilaksanakan dengan segala keterbatasan dan sederhana. Namun, bukan berarti menghilangkan substansi dari tradisi tersebut, yakni sebagai wujud rasa syukur warga dan nelayan Pantai Popoh atas rezeki yang diterimanya.
Sejak pagi, puluhan warga berbondong-bondong memenuhi tempat pelelangan ikan (TPI) Pantai Popoh lengkap menggunakan masker. Namun, tahun ini antusiasme warga tidak sebanyak tahun lalu. Acara pun digelar sangat sederhana dalam satu hari saja. Diawali dengan selamatan, larung sembonyo, dan kemudian dilanjutkan dengan pergelaran seni jaranan di TPI.
Panitia pelaksana labuh laut larung sembonyo Pantai Popoh, Sumaryanto mengatakan, jika biasanya pelaksanaan larung sembonyo diperingati selama tiga hari tiga malam, kini karena adanya pandemi Covid-19 terpaksa dilakukan hanya satu hari saja. Hal itu berimbas pada rangkaian acara yang hanya dilakukan sederhana. “Jika tahun lalu menyembelih kerbau, tahun ini hanya menyembelih kambing. Rangkaiannya hanya selamatan, pelarungan, kemudian pergelaran seni,” tuturnya.
Tentu karena pandemi Covid-19, agenda tahunan ini terbilang sepi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pihaknya juga tidak mempublikasikan secara masal, hanya kepada warga Popoh dan sekitarnya saja. “Tahun ini perayaannya sepi karena ada pandemi Covid-19. Namun, semua itu tidak berpengaruh pada makna kegiatan ini,” ujar pria berkumis itu.
Salah satu tokoh adat, Nyadi mengungkapkan, kegiatan larung sembonyo ini merupakan hajat dari para warga dan nelayan Pantai Popoh dan sekitarnya. Perayaan ini rutin tiap tahun sekali digelar pada momentum bulan Sura. “Kan nelayan itu mencari rezekinya di laut. Perayaan ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diterimanya dan berharap bisa mendapatkan rezeki yang berlimpah pada tahun-tahun selanjutnya,” ungkapnya.
Pria sepuh ini menjelaskan, perayaan ini merupakan tradisi adat para nelayan yang sudah lama dilakukan. Pihaknya tidak bisa memastikan sejak kapan perayaan adat tersebut. Namun pihaknya memperkirakan lebih dari 100 tahun telah ada. “Ini juga sebagai bentuk pelestarian adat budaya Jawa yang turun temurun. Aja nganti wong Jawa ilang Jawane,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Tulungagung Maryoto Birowo yang juga hadir dalam perayaan labuh laut larung sembonyo mengatakan, perayaan tersebut merupakan tradisi dari para nelayan Pantai Popoh. Dan ini harus terus dilestarikan oleh anak muda, yang menjadi pewaris budaya Jawa. Jika dikembangkan, larung sembonyo bisa menjadi potensi wisata budaya di Tulungagung. “Jika dikembangkan bisa menjadi potensi bagi wisata budaya di kabupaten ini,” paparnya.
Pria berkacamata itu menambahkan, bahwa selama pandemi Covid-19, sektor wisata sangat terdampak. Adanya larung sembonyo di Pantai Popoh bisa mendongkrak pariwisata yang terdampak Covid-19. Maka dari itu, pihaknya juga hadir untuk memastikan bahwa selama perayaan tersebut juga tetap menjalankan protokol kesehatan. “Ini juga sebagai edukasi dan sosialisasi bagaimana tata cara penyelenggaraan perayaan di tengah pandemi Covid-19,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq