GONDANG, Radar Tulungagung - Imbauan dari Kementerian Sosial (Kemensos) terkait penyaluran program bantuan pangan nontunai (BPNT) tanpa sistem paket bagai gayung bersambut. Seperti yang terlihat di beberapa e-warong di Kota Marmer yang sudah tidak menggunakan sistem paket atau menggantinya dengan sistem preorder. Digantinya sistem paket menjadi preorder ternyata mendapatkan sambutan positif dari keluarga penerima manfaat (KPM).
Suprapto, pemilik e-warong di Desa Tawing, Kecamatan Gondang mengatakan, penggunaan sistem preorder sudah dilakukan sejak satu bulan yang lalu. Sedangkan untuk sistem paketan digunakan terakhir pada Agustus 2020 lalu. “Mulai 2018 lalu pada awal menjadi e-warong hingga Agustus kemarin saya menggunakan sistem paket. Tapi mulai bulan lalu saya sudah menggunakan sistem preorder,” tuturnya.
Penggunaan sistem preorder ini adalah inisiatif dari semua e-warong yang berada di Kecamatan Gondang. Bahkan sebelum Kemensos datang ke Tulungagung, pihaknya sudah menggunakan sistem preorder. Tujuan menggunakan sistem preorder adalah agar KPM tidak jenuh. Jadi, komoditas yang diterima KPM lebih variatif. Selain itu, sudah memang menjadi aturannya penggunaan preorder di dalam pedum. “Penggunaan sistem preorder ini membuat KPM mendapatkan komoditas lebih variatif. Jadi KPM tidak jenuh, hanya mendapatkan komoditas itu saja ketika menggunakan sistem paketan,” papar pria ramah itu.
Prapto, sapaan akrabnya menjelaskan, untuk alur sebelum pembagian komoditas, mula-mula KPM mengajukan apa yang dibutuhkan dalam penyaluran bulan depan kepada e-warong. Ada tiga pilihan yang diberikan. Yakni ikan, kacang-kacangan, dan buah. Sedangkan komoditas yang pasti diterima oleh KPM adalah beras dan telur. “Nanti setelah permintaan KPM terdata, akan dimusyawarahkan komoditas apa yang paling banyak diminati KPM seluruh Kecamatan Gondang. Komoditas yang mendapatkan peminatan paling banyaklah yang akan dipilih untuk disalurkan bulan depan,” terangnya.
Meski tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan KPM yang diajukan, setidaknya sistem preorder membuat KPM bisa memilih kebutuhan diinginkan. Selain itu, kesepakatan yang diambil adalah hasil musyawarah antara e-warong, KPM, dan TKSK. “Jika semua kebutuhan yang diajukan dituruti, takutnya akan timbul kecemburuan antar-KPM. Tapi setidaknya menggunakan sistem preorder, KPM bisa menentukan kebutuhan apa yang diinginkan,” jelas ayah dua anak itu.
Pria usia 40 tahun itu menambahkan, setiap KPM mendapatkan beras 15 kilogram (kg) kualitas medium, telur 23 butir, dan sisanya komoditas tambahan keinginan KPM. Tapi pada penyaluran bulan depan, pihaknya merencanakan setiap KPM akan mendapatkan empat komoditas. Tapi konsekuensinya telur yang didapat KPM akan dikurangi, yang kemudian dialihkan untuk komoditas lainnya. “Rencananya penyaluran selanjutnya KPM mendapat empat komoditas, yakni, beras, telur, kacang-kacangan, dan ikan gurami. Dan tiap bulan komoditas tambahannya bisa diubah sesuai permintaan KPM,” tambahnya.
Prapto mengungkapkan, hampir setiap bulan pihaknya bersama e-warong dan TKSK melakukan evaluasi terhadap program BPNT. Sedangkan jika boleh memilih, lebih enak sistem preorder daripada paketan. Karena KPM lebih bisa memilih. Selain itu, tiap bulan pihaknya melayani sekitar 400 KPM yang terdiri dari KPM Desa Tawing dan Gondosuli. Pengambilan komoditas tidak harus dalam satu hari itu juga. “Sistem ambilnya tidak satu kali pembagian langsung habis karena kami tidak tau apakah pada hari itu KPM bisa mengambil atau tidak. Ada waktu tujuh hari untuk KPM mengambil komoditas. Bahkan ketika KPM tidak bisa mengambil, kami antarkan ke KPM tersebut. Tentu saja KPM itu benar-benar tidak bisa mengambil,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu KPM, Sulastri mengatakan, penerapan sistem preorder lebih enak daripada sistem paket. Karena dengan sistem preorder, KPM bebas memilih komoditas apa yang dibutuhkan. Pasalnya, jika menggunakan sistem paket KPM, tidak bisa memilih sesuai dengan kebutuhan. Bahkan terkadang jika menggunakan sistem paket, perempuan usia 68 tahun itu merasa bosan karena hanya mendapatkan komoditas yang sama tiap bulan. “Saya sebenarnya manut saja. Tapi kalau memilih, lebih enak preorder karena bisa memilih sesuai kebutuhan. Seperti dulu diberi ikan patin, padahal banyak orang sini yang tidak suka dan di sini banyak pembudi daya ikan patin,” pungkas perempuan berkerudung itu. (*)
Editor : Choirurrozaq