Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ratusan Hewan Piaraan Divaksinasi

Choirurrozaq • Sabtu, 3 Oktober 2020 | 01:00 WIB
ratusan-hewan-piaraan-divaksinasi
ratusan-hewan-piaraan-divaksinasi

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Potensi penularan rabies masih membayangi, khususnya untuk wilayah pegunungan. Tak mustahil, hal tersebut membuat ratusan hewan divaknisasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) kemarin (1/10). Semua tidak terlepas dari upaya meminimalisir persebaran penyakit ini.


Kasi Pengamatan Penyakit Hewan dan Kelembagaan Kesehatan Hewan (P2H), Ike Eliya Anantasari mengatakan, pada kesempatakan kali dalam rangka memperingati WRD 2020 pihaknya mengadakan vaksinasi gratis untuk hewan peliharaan seperti anjing, kucing dan kera. Hal ini bertujuan untuk menjaga status Tulungagung bebas rabies. “Selain kami memberikan vaksinasi gratis, kami juga melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan dan bahaya rabies,” tuturnya.


Ike –sapaan akrabnya mengungkapakan, vaksinasi gratis ini dilakukan di lima lokasi berbeda, yakni Puskeswan Ngunut, Rejotangan, Kalidawir, Campurdarat, dan Kedungwaru. Dari kelima lokasi tersebut pihaknya menyediakan vaksin rabies sebanyak 250 buah. Dari 250 vaksin yang disediakan, tercatat sudah hampir terpenuhi alokasinya. “Rincianya untuk Puskeswan Ngunut ada 45 hewan, Rejotangan ada 30 hewan, Kalidawir ada 55 hewan, Campurdarat ada 30 hewan dan Kedungwaru sekitar 90 hewan. Dari jumlah tersebut, yang mendominasi adalah kucing,” ungkapnya.


Selama pelaksanaan vaksinasi, tidak ditemukan hewan peliharaan yang mengalami rabies. Dan perlu diketahui bahwa rabies bisa menular dengan perantara hewan peliharaan seperti anjing, kucing dan kera, melalui air liurnya. Untuk bisa dilakukan vaksinasi hewan diharuskan sehat dan tidak boleh dalam keadaan sakit ataupun demam. “Dalam temuan kami tidak ada hewan yang rabies, tapi kami banyak menemukan hewan yang sakit, kutu yang mengakibatkan demam. Dengan kondisi tersebut hewan harus dilakukan terapi dan kemudian bisa dilakukan vaksinasi,” terang perempuan yang juga menjadi Ketua Panitia WRD 2020.


Perempuan ramah itu menambahkan, meski tidak ditemukan hewan rabies, bukan berarti tidak ada potensi penularan rabies. Hampir semua wilayah di Tulungagung bisa memiliki potensi penularan rabies, khususnya daerah yang berada di pegunungan. Banyak hewan peliharaan yang bebas di pegunungan, seperti anjing yang digunakan untuk menjaga hewan ternak. “Di daerah pegunungan banyak anjing yang dipelihara bebas untuk menjaga ternak, itu yang harus kita waspadai,” tambahnya.


Selain itu, perempuan berkrudung itu juga menjelaskan, adapun ciri-ciri hewan yang terkena rabies adalah hewan tersebut akan ketakutan ketika terpapar sinar matahari. Dan untuk mengantisipasi lebih baik dilakukan vaksinasi secara berkala. “Baiknya untuk memberi vaksin rabies kepada hewan peliharaan adalah satu tahun sekali,” jelas perempuan yang juga sebagai dokter hewan itu.


Sementara itu, salah satu warga yang mengikuti vaksinasi rabies gratis, Emil Salim mengatakan, dengan adanya vaksinasi rabies masal ini, masyarakat yang sebelumnya tidak tahu akan bahaya rabies, akhirnya bisa mengerti dan paham betapa pentingnya melakukan vaksinasi kepada hewan peliharaan. “Saya pelihara tujuh kucing, setiap satu tahun sekali saya melakukan vaksin rabies dan melakukan vaksinasi jamur serta kutu setiap tiga bulan sekali,” ujarnya.


Pria berjenggot itu menambahkan, vaksinasi ini sangat bagus sekali, karena untuk mengantisipasi penyebaran rabies. Selain itu, jika biasanya melakukan vaksinasi rabies sendiri dengan memanggil dokter bisa menghabiskan uang sekitar Rp 185 ribu untuk satu ekor kucing. “Biasanya kalau saya melakukan vaksinasi sendiri dengan memanggil dokter menghabiskan Rp 185 ribu untuk satu ekor kucing. Berbeda harga untuk vaksin rabies anjing,” pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq