KOTA, Radar Tulungagung – Tak hanya wabah coronavirus disease (Covid-19), persebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) juga patut diwaspadai warga Tulungagung. Terlebih kondisi cuaca yang tak dapat diprediksi seperti saat ini. Bahkan Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Tulungagung mencatat, selama hampir 9 bulan ini kasus DBD mencapai 216 kasus dengan 3 kasus kematian. Sebaran kasus pun ditemukan di sejumlah kecamatan yang menjadi langganan temuan DBD setiap tahunnya. Seperti Kecamatan Boyolangu, Kedungwaru, Ngantru, Tulungagung, dan beberapa kecamatan yang memiliki jumlah penduduk padat.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Didik Eka Sunarya Putra mengatakan, lonjakan kasus terjadi pada bulan Februari dan Maret. Yakni mencapai 55 dan 56 kasus. Sementara untuk bulan Januari tercatat sebanyak 11 kasus, April 37 Kasus, Mei 22 kasus, dan Juni 14 kasus. “Tiga kasus kematian kami temukan di bulan Maret, Mei, dan Juni. Dan ini kami temukan di wilayah Kecamatan Kauman dan Gondang,” jelasnya.
Didik melanjutkan, tingginya kasus DBD pada bulan Februari dan Maret ini dipicu perubahan musim. Cuaca tak menentu karena perubahan musim inilah yang membuat siklus perkembangan nyamuk menjadi lebih cepat. “Cuaca menjadi faktor utama memang, seperti tahun tahun sebelumnya. Mengingat vektor nyamuk ini menyukai lingkungan bersih dan air yang bersih juga, biasanya diperoleh dari air hujan yang masuk ke wadah wadah terbuka di sekitar rumah,”urainya.
Didik pun menganalogikan siklus nyamuk biasanya bertelur pada penghujung musim kemarau. Selanjutnya wadah-wadah terbuka yang selama ini berisi telur nyamuk akan dipenuhi oleh air hujan saat musim hujan tiba. Saat itulah telur-telur nyamuk akan berproses menjadi larva dan berkembang menjadi nyamuk dewasa. Sehingga ketika musim pancaroba tiba terjadi lonjakan kasus temuan demam berdarah.
Untuk itu, pria berkumis ini mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, dan rutin melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing. Meskipun dinkes telah melakukan fogging di hampir 43 titik selama semester I ini, namun tetap diperlukan kerja sama dan kesadaran masyarakat untuk tetap melakukan PSN rutin setidaknya satu minggu sekali. (*)
Editor : Choirurrozaq