KOTA, Radar Tulungagung- Meski jumlah pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di rusunawa tidak sebanyak sebelumnya, ternyata shelter tombo kangen masih berjalan efektif. Bahkan, kini banyak wilayah di Jawa Timur (Jatim) mulai membuat layaknya shelter tombo kangen, dengan tujuan sebagai ruang temu antara pasien Covid-19 dengan keluarganya.
Shelter tombo kangen adalah sebuah bilik berukuran kurang lebih 2 meter x 6 meter dengan rangka kayu tanpa dipaku. Dinding bilik tersebut terbuat dari plastic. Bilik ini digunakan sebagai ruang pertemuan antara pasien covid-19 di rusunawa dengan keluarga.
Koordinator Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Tagana Tulungagung Imam Syafi’i menuturkan, shelter tombo kangen masih berfungsi seperti sediakala. Meski jumlah pengunjung tidak sebanyak beberapa bulan lalu. Hal ini disebabkan jumlah pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di Rusunawa jauh berkurang dari tiga bulan sebelumnya. “Shelter tombo kangen masih berfungsi, meski suasananya tidak seperti dulu. Karena jumlah pasiennya sedikit dan proses isolasi relatif cepat,” tuturnya.
Jika dirata-rata tiap hari jumlah pengunjung yang menggunakan shelter tombo kangen sekitar lima sampai 10 orang. Sedangkan dulu, jumlah pengunjung yang menggunakan shelter tombo kangen selalu penuh dengan antrean. Biasanya shelter tombo kangen digunakan mengantar bekal dan komunikasi antara keluarga dan pasien Covid-19.
Pria anak satu itu menjelaskan, inovasi shelter tombo kangen merupakan satu-satunya media komunikasi di Indonesia, untuk mempertemukan antara keluarga dan pasien Covid-19. Kini pihaknya seringkali dimintai cara pembuatan shelter di berbagai wilayah Jatim. “Kami sering kali diminta mengedukasi bagaimana cara membuat shelter tombo kangen dari berbagai wilayah seperti di Banyuwangi dan daerah lainya,” jelasnya.
Pria yang juga aktif di PMI Tulungagung itu menambahkan, Tim Tagana akan tetap bertugas hingga diterbitkanya surat edaran (SE) yang menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 telah berakhir. Atau setidaknya ada surat intruksi Bupati Tulungagung untuk menarik Tim Tagana. “Jadi sebelum adanya surat tersebut kami akan tetap stay dan menjalankan peran relawan kami,” pungkasnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana