KALIDAWIR, Radar Tulungagung – Dalam suasana Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-815, tak lengkap rasanya jika tidak menelusuri sejengkal demi sejengkal yang berbau Tulungagungan. Jika biasanya berkutat pada hal-hal berbau sejarah, tidak ada salahnya kita mengenal lebih dekat beberapa kata yang menjadi subdialek kabupaten yang berbatasan dengan Kediri, Blitar, dan Trenggalek ini. Kalau tidak diperhatikan, tentu bakal muncul perasaan nasnis (risau) istilah lokal bakal tenggelam ditelan perkembangan zaman.
Dalam dialektika Bahasa Jawa di berbagai daerah pasti memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Bahkan di Tulungagung sendiri, secara sosioligustik juga memiliki dialektika Bahasa Jawa yang khas sesuai dengan budaya di masyarakat. Jika diidentifikasi dialektika Bahasa Jawa di Tulungagung masuk ke dalam Bahasa Jawa mataraman daerah pandalungan. Hal itu termasuk dalam kekayaan bahasa yang dimiliki kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini.
Salah satu pemerhati Bahasa Jawa, Fatkur Rohman Nur Awalin mengatakan, di era ini bahasa ibu sudah banyak mengalami fosilisasi. Bahkan data UNESCO menyebutkan tiap tahunnya ada 10 ribu bahasa ibu yang mengalami fosilisasi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Bahasa Jawa. “Bahasa Jawa hingga saat ini masih eksis, karena masih banyak penuturnya,” tuturnya.
Faktur, –sapaan akrabnya menjelaskan, dalam dialektika Bahasa Jawa, di setiap daerah pasti memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing sesuai dengan budaya masyarakat. Hal itu bisa dianalisa dengan sosiolingustik. Di Tulungagung sendiri juga memiliki ciri khas dialektika Bahasa Jawa terutama dalam pengembangan Bahasa Jawa atau slang. “Jiiaan….., Puuooh….., itu adalah penekanan dalam penuturan Bahasa Jawa yang khas sekali dari dialektika Bahasa Jawa di kabupaten ini,” jelasnya.
Pria yang juga menjadi dosen di IAIN Tulungagung itu mengungkapkan, jika dianalisa Bahasa Jawa di Tulungagung masuk dalam Bahasa Jawa Mataraman yang diidentifikasikan dengan daerah Pandalungan. Dan di Tulungagung itu banyak sekali pengembangan dari Bahasa Jawa terutama slang. Hal itu sah-sah saja, justru dengan banyaknya slang Tulungagungan seperti itu akan memperkaya variasi Bahasa Jawa di Tulungagung. “Faktor yang membuat bahasa slang jawa di Tulungagung itu berkembang adalah penuturnya. Dan tentunya penuturnya sangat berkaitan dengan aspek budaya di Tulungagung. Karena bahasa itu merupakan budaya itu sendiri,” ungkapnya.
Banyaknya Bahasa Jawa slang menunjukkan bahwa Tulungagung memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa. Dan tentunya penggunaan Bahasa Jawa slang untuk kegiatan yang sifatnya informal. Karena akan menjadi lucu ketika berada di tempat informal seperti warung kopi, menuturkan Bahasa Jawa dengan baku. Maka dari itu di dalam Bahasa Jawa itu mengandung ektika yang tentunya dapat membentuk karakter penuturnya. “Ini (basa Tulungagungan) merupakan kekayaan Bahasa Jawa di Tulungagung,” ujar magister Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Negeri Yogyakarta itu.
Dengan kekayaan dari pengembangan Bahasa Jawa khas Tulungagung ini, seharusnya Pemkab Tulungagung bisa mengeluarkan suatu kebijakan, agar kekayaan Bahasa Jawa khas Tulungagung bisa dikembangkan dan dilestarikan. Bahakan di dunia pendidikan sendiri juga Bahasa Jawa juga belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pemerintah. “Seharusnya ada kebijakan tentang Bahasa Jawa khas Tulungagung, yang selanjutnya bisa dimasukkan ke dalam kurilukum pendidikan jenjang SD hingga SMA,” terang pria asal Desa Picisan, Kecamatan Kalidawir itu.
Pria berkacamata itu berharap kepada generasi muda dan tua untuk terus menggunakan bahasa ibu, yakni Bahasa Jawa. Karena permasalahan saat ini banyak dari orang tua yang tidak mau menggunakan Bahasa Jawa dalam kesehariannya. Dan lebih memilih menggunakan bahasa lain yang lebih prestisius. “Bahasa Jawa itu sangat kompleks, tidak hanya mengenai bahasa saja tapi juga berkaitan dengan budaya, etika dan lain sebagainya. Maka dari itu Bahasa Jawa itu empan mapan, dimana tempatnya bisa menyesuaikan. Sama halnya dengan Bahasa Jawa khas Tulungagung itu,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, subdialek adalah bagian dari dialek. Yang memiliki arti sistem kebahasaan yang digunakan masyarakat tertentu untuk membedakan dari masyarakat lain yang bertetangga. Hal ini tercantum dalam buku karya Ayatrohaedi yang berjudul Dialektologi: Sebuah Pengantar, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Jakarta. Serta buku Dialektologi: Teori dan Metode, karya Nadra dan Reniwati, terbitan Elmatera, Jogjakarta.
Hal senada diungkapkan Zuly Kristanto, penulis buku Bahasa Jawa. Menurut dia, keberadaan istilah lokal Tulungagungan itu justru memperkaya khasanah Bahasa Jawa itu sendiri. Dan bukan berarti menghilangkan kata baku yang tercantum dalam bausastra Basa Jawa atau kamus Bahasa Jawa. “Hal ini bisa lebih digali lagi karena bisa menjadi ciri khas daerah,” katanya.
Pria asal Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol ini tidak menampik jika penggunaan istilah lokal memang jarang dipergunakan untuk membuat sebuah karya sastra. Namun hal itu bukan berarti tidak bisa digunakan. “Kalau mau justru bisa memberi nilai lebih,” tambahnya. (*)
Editor : Choirurrozaq