KALIDAWIR, Radar Tulungagung – Omah Kabudayan Kangen Budoyo (OKKB) Desa Winong, Kecamatan Kalidawir mendapatkan kepercayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui fasilitasi bidang kebudayaan menggelar kenduri budaya winong 2020. Kemarin (20/11) OKKB melakukan sarahsehan legenda Desa Winong, dengan tujuan agar generasi penerus mengetahui sejarah desanya.
Ketua OKKB, Gunawan mengatakan, sarasehan legenda Desa Winong, Kecamatan Kalidawir yang bertempat di Balai Desa Winong dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Acara tersebut juga turut dihadiri oleh staf khusus Dirjen Kebudayaan, Dewan Kesenian Jawa Timur, DPMD Kabupaten Tulungagung, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Tulungagung, serta masyarakat Desa Winong, Kecamatan Kalidawir. “Alhamdulillah banyak tamu undangan yang kami undang datang untuk mengikuti sarasehan legenda Desa Winong,” tuturnya.
Gun, –sapaan akrabnya menjelaskan, di dalam sarasehan legenda Desa Winong pihaknya ingin membedah sejarah Desa Winong. Selain itu dalam Desa Winong juga terdiri dari enam dusun yang juga memiliki sejarahnya sendiri-sendiri yakni, Dusun Tumpak Joho, Mongkrong, Ngledok, Winong, Ngambal, dan Branjang. Akhirnya melalui sarasehan legenda Desa Winong sejarah setiap dusun tersebut dijadikan satu dalam sejarah Desa Winong. “Karena setiap dusun memiliki sejarah masing-masing, akhirnya kami jadikan satu menjadi sejarah Desa Winong,” jelasnya.
Pria ramah itu menungkapkan, sarasehan tersebut menjadi sangat penting. Pasalnya, dengan mengetahui sejarah desa, nantinya generasi penerus akan mudah mengenal sejarah desanya. Karena tujuan sarasehan legenda Desa Winong adalah untuk mendokumentasikan sejarah Desa Winong agar generasi penerus bisa mengetahui sejarah desanya. “Agar nanti generasi penerus mengetahui sejarah desanya,” ungkapnya.
Dari sarasehan tersebut, OKKB akan mendokumentasikan sejarah desa tersebut ke dalam buku. Nantinya buku tersebut akan menjadi arsip desa. Selain menjadikan buku, sejarah Desa Winong juga pihaknya buat menjadi sendratari Kidung Karan Tumpak Kenalan. “Jadi tidak hanya kami bukukan, tapi juga kami dokumentasikan ke dalam sendratari,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq