NGUNUT, Radar Tulungagung – Ikan koi salah satu ikan yang masih tetap bertahan disegala kondisi. Bahkan, di tengah pandemi Covid-19 ikan koi masih tetap stabil. Segala ukuran pada ikan koi juga bisa dijual, yang tentunya juga melihat kualitas. Namun, tidak semua orang bisa membudidayakan ikan koi. Butuh ketelatenan dan bisa mengetahui karakter setiap jenis ikan koi untuk bisa berhasil membudidayakan ikan dengan nama latin Cyprinus Rubrofuscus ini.
Salah seorang anggota Kelompok Pembudidayaka Ikan Koi Gudang Poster Selorejo yang bermarkas di Desa Selorejo, Kecamatan Ngunut, Dodik Setiawan mengatakan, kelompok pembudidaya ikan koi ini sudah berjalan selama dua tahun. Setidaknya ada 15 anggota berlatar belakang pembudidaya ikan konsumsi dari tiga desa yakni, Desa Selorejo, Mirigambar dan Pakisaji. Kelompok ini merupakan wadah bagi anggota untuk belajar membudidayakan koi agar berkualitas. Selain itu, dengan support dari Pemdes Selorejo, kelompok ini akan menjadi salah satu pemberdayaan masyarakat. “Jadi dengan membudidayakan ikan koi, besar harapanya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat desa,” tuturnya.
Odik –sapaan akrabnya menjelaskan, setiap anggota rata-rata sudah memiliki lima kolam dengan jenis ikan koi yang lumayan lengkap. Seperti koi yang jenis paten seperti kohaku, sanke, soa dan busanke. Bahkan juga memiliki jenis ikan koi endemik Tulungagung yakni shusui asagi. “Setiap daerah itu memiliki jenis ikan koi unggulanya. Kalau di Tulungagung ikan koi endemiknya adalah shusui asagi,” jelasnya.
Untuk harga koi juga bervariatif, tergantung dengan jenis serta ukuranya, mulai dari harga Rp 100 ribu hingga puluhan juta rupiah. Rata-rata kelompokya bisa mengeluarkan ribuan ikan koi pada setiap bulannya. Selain itu, ikan koi mereka juga sudah tembus berbagai pasar, mulai dari jawa hingg luar jawa. “Sebenarnya ikan koi itu bisa dijual dengan ukuran apapun, namun juga kembali pada kualitasnya. Paling banyak kami menerima pesanan dari Jawa Tengah dan Jawa Barat,” terangnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana