BOYOLANGU, Radar Tulungagung – Momentum peringatan Hari Air Sedunia (World Water Day) 2021 kali ini terasa istimewa. Bagaimana tidak, Dam Cluwok yang merupakan sistem pengendali banjir pertama kali di Tulungagung resmi disulap menjadi monumen pengairan. Pemilihan DAM Cluwok bukan tanpa alasan. Ini karena dam yang dibangun sejak 1931 ini memiliki fungsi yang cukup vital untuk mengendalikan banjir di Tulungagung pada era kolonial Belanda.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Tulungagung, Anang Pratistianto mengatakan, dam yang berada di perbatasan antara Desa Bono dan Desa Gondosuli ini termasuk salah satu bangunan sederhana namun sangat kokoh. Ini sekaligus sebagai peringatan agar di kemudian hari generasi penerus tahu bahwa di Tulungagung pernah berdiri sebuah dam yang sangat kokoh pada era kolonial dan mampu bertahan hingga saat ini. “Dam ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi, saya harap generasi mendatang akan mengetahui hal tersebut,” jelasnya ketika ditemui usai acara penetapan monumen Dam Cluwok.
Anang melanjutkan, pihaknya akan mmelanjutkan penggalian lagi pada Dam Cluwok. Pada tahap pertama ini telah tergali sedalam tiga meter. Nantinya akan digali lagi sekitar empat meter. Sehingga seluruh bagian dam akan terlihat. “Kami gali secara bertahap, ini akan kami lanjutkan hingga semua bagian pintu air bisa terlihat semua,” terangnya.
Dam yang telah berdiri sejak era Belanda ini sendiri memiliki 14 pintu air dengan bangunan utama berbahan beton setebal 40 sentimeter (cm). Tidak heran, dengan konstruksi sedemikian rupa, meskipun telah lama terpendam, dam ini masih terlihat cukup kokoh. Namun, saat ini dam tersebut tidak lagi berfungsi. Sebab aliran Sungai Ngrowo telah dipindahkan ke sebelah timur, sejalan lurus ke arah selatan.
Mantan camat Kedungwaru ini berharap, adanya monumen Dam Cluwok ini dapat menjadi pengingat bagi siapa saja, utamanya generasi penerus untuk lebih peduli dan menghargai keberadaan air. Sebab air merupakan salah satu sumber daya yang cukup vital bagi kehidupan. Namun, air juga dapat menjadi boomerang dengan adanya banjir. “Air itu seperti dua mata koin. Bisa menjadi sumber kehidupan, namun juga bisa menjadi bencana seperti banjir. Untuk itu peringatan hari air sedunia ini agar kita semua dapat lebih peduli lagi,” ujarnya.
Sementara itu ditemui di lokasi yang sama, Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengungkapkan, karena Tulungagung masuk wilayah rawa-rawa, pada jaman dahulu menjadi salah satu daerah yang rawan terjadi banjir. Tak heran jika Dam Cluwok memegang kendali yang cukup vital dalam pengendalian banjir kala itu. “Saat wilayah kota banjir, DAM akan ditutup sehingga air mengalir ke utara, masuk ke Sungai Brantas,” ujarnya memberi gambaran fungsi Dam Cluwok kala itu.
Saat itu, wilayah bagian selatan, khususnya wilayah Gesikan, Kecamatan Pakel dan sekitarnya merupakan kawasan rawa. Untuk mengatasai banjir di wilayah selatan pemerintah Jepang pun membangun terowongan Neyama. Terowongan ini menembus gunung untuk membuat saluran pembuangan langsung ke Teluk Popoh. Pembangunan pun dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia dan diintegrasikan dengan saluran Parit Agung.
Parit Agung ini mengalirkan air dari wilayah kota ke wilayah selatan dan mengarah ke Teluk Popoh. Selanjutnya, sistem irigasi pun mulai difungsikan pada 1986. Sejak saat itu banjir di Tulungagung mulai dapat teratasi. Wilayah yang sebelumnya merupakan kawasan rawa-rawa pelan-pelan mengering dan berubah menjadi lahan pertanian yang subur. “Memperingati Hari Air Sedunia ini, kami menetapkan Dam Cluwok menjadi monumen. Monumen ini mengingatkan bahwa Tulungagung pada masa dulu merupakan daerah rawa yang sering dilanda banjir,” terangnya.
Seiring berfungsinya Parit Agung dan Terowongan Neyama, Dam Cluwok pun tidak lagi difungsikan. Terlebih di sisi utara juga dibangun Dam Majan, yang dulu disebut Tulungagung Gate. Nantinya, Dam Cluwok yang tertutup tanah sedalam 7 meter akan digali sehingga tampak bentuk aslinya, meskipun tidak akan difungsikan lagi. Dulunya Dam Cluwok menjadi titik pertemuan air dari wilayah Penunungan Wilis di barat laut, dengan air dari pegunungan di timur. “Nilai historis itulah yang menjadikan alasan kami menetapkan Dam ini sebagai monumen,” tandas Maryoto. (*)
Editor : Choirurrozaq