KALIDAWIR, Radar Tulungagung – Meskipun gempa magnitudo 6,7 skala Ritcher (SR) telah berlalu, tak mengurangi rasa takut, dan waswas masyarakat Kecamatan Kalidawir yang menjadi lokasi terparah akibat peristiwa tersebut. Tak heran ratusan warga setempat yang terdampak memilih untuk tetap berjaga-jaga dan bersiaga jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan pada Minggu (11/4) pagi lalu.
Warga Dusun Kradengan, Desa/Kecamatan Kalidawir Suharyono mengaku, sejak Sabtu malam hingga Minggu malam terpaksa harus tidur di ruang tamu bagian depan rumah. Ini sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan akan lebih mudah menyelamatkan diri keluar. “Saya dengan anak dan istri tidur di ruang depan sini, kasur kami keluarkan supaya kalau ada apa-apa juga bisa segera evakuasi diri,” jelasnya seraya menunjukkan ruang tamunya yang telah diubah menjadi tempat tidur sementara.
Kerusakan rumah Suharyono akibat gempa terbilang parah. Tembok bagian kamar belakang roboh. Sehingga rawan untuk ditempati kembali. Tak hanya tembok belakang bagian ruang kamar yang roboh, bagian dapur pun juga banyak yang retak. Bahkan beberapa bagian atap telah ambrol. “Sementara waktu, ya cuma saya amankan dengan bambu ini untuk penyangga supaya tidak ambrol,” terang pria yang menjabat ketua rukun tetangga (RT) ini.
Tak hanya Suharyono, hal yang sama juga dialami Siswanto, warga Dusun Kradengan Desa/Kecamatan Kalidawir. Pria berkulit sawo matang ini mengaku, akibat gempa yang mengguncang sebagian besar wilayah selatan Jawa Timur ini membuat serambi depan roboh dan hancur total. Beruntung saat kejadian dirinya dan sang istri sedang berada di samping rumah, sehingga dapat mengevakuasi diri. “Padahal saya biasanya juga duduk-duduk santai di serambi depan situ, Sabtu (10/4) kemarin saya kok ya pas di samping rumah melihat ayam kemudian ada gempa saya panggil istri dan lari,”urainya.
Hingga kini, dia mengaku, masih trauma dengan kejadian Sabtu (10/4) lalu. Sebab, usai kejadian pada Sabtu sore, Minggu pagi (11/4) terjadi gempa susulan yang juga cukup kuat. Sehingga membuat beberapa bagian rumah kembali ambrol. “Trauma pasti, takut juga kalau sewaktu-waktu ada gempa lagi bagaimana ?. Ini banyak bagian tembok rumah saya yang mengelupas,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Soeroto mengatakan, hingga kini tercatat 42 desa yang tersebar di 14 Kecamatan terdampak gempa. Dari 14 kecamatan tersebut, Kecamatan Kalidawir menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan yang terparah. Yakni terjadi di 10 desa, antara lain Desa Rejosari, Joho, SukorejoKulon, Tanjung, Kalibatur, Betak, Banyuurip, Winong, Jabon, dan Kalidawir. “Di Kalidawir ada sekitar 24 rumah warga dan 1 musala yang rusak,” jelasnya.
Posisi secara geografis Kecamatan Kalidawir yang berdekatan dengan Samudra Hindia membuatnya terdampak langsung. Sebab pusat gempa berada wilayah Samudra Hindia selatan Jawa. “Pantai Sine itu kan menghadap ke Samudra Hindia langsung, jadi memang kondisinya juga berdekatan. Tidak heran jika lokasi terparah berada disini,”terangnya.
Tak hanya secara geografis yang berdekatan dengan pusat gempa, kondisi bangunan rumah penduduk yang relatif sudah tua membuatnya rawan roboh atau ambrol ketika terjadi gempa besar.
Dia mengimbau, masyarakat khsususnya yang tinggal atau berlokasi dekat dengan bangunan rapuh untuk dapat waspada. Sebab gempa bumi merupakan salah satu bencana yang sulit untuk diprediksi. “Warga untuk tetap waspada dan tidak perlu panik, karena kami selalu melakukan monitoring maupun koordinasi dengan BMKG,”imbaunya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya telah terjadi sepuluh kali gempa susulan (aftershock) pasca terjadinya gempa utama bermagnitudo 6,7 skala richter (SR) sabtu (10/4) lalu. Dari hasil monitoring, sepuluh gempa susulan ini memiliki range magnitudo 3,1 SR hingga 5,3SR. Dari sepuluh gempa susulan yang terjadi, rata-rata masih berlokasi tidak jauh dari gempa yang pertama. Yakni sekitar 67 hingga 91 kilometer (km) barat daya Kabupaten Malang.
Selain masih berlokasi di sekitar pusat gempa pertama, kedalaman gempa susulan ini juga relative bervariasi. Yakni mulai dari kedalaman 31km, 41km, 43km, 45km, 48 km, hingga paling dalam 98km yang terjadi pada minggu (11/4) pagi. Tak hanya itu, dari catatan BMKG, gempa susulan kedelapan yang terjadi pada minggu (11/4) pagi merupakan gempa susulan terkuat. Yakni dengan magnitudo 5,5 SR yang kemudian di update menjadi 5,3SR. Tak heran kondisi ini turut dirasakan oleh sejumlah wilayah lain di selatan Jatim. Seperti Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Lumajang, Nganjuk, Kediri, dan Pacitan. (*)
Editor : Choirurrozaq