Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

83,5 Hektare Sawah Diserang Tikus

Choirurrozaq • Sabtu, 29 Mei 2021 | 19:08 WIB
835-hektare-sawah-diserang-tikus
835-hektare-sawah-diserang-tikus

KOTA, Radar Tulungagung - Para petani di Kota Marmer sebaiknya lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap hama tikus. Bagaimana tidak, hingga akhir Mei ini serangan hama tikus mulai meluas jika dibandingkan pada Januari dan Februari lalu. Jika dikalkulasi, selama lima bulan terakhir, tercatat sebanyak 83,5 hektare lahan terserang.


Artinya, serangan hama tikus masih menjadi ancaman besar bagi petani di Kota Marmer. Terlebih ketika pascapanen, petani memulai kembali masa tanam kedua (MT II) pada pertengahan tahun. Jika tidak segera dikendalikan, bukan tidak mungkin serangan hama tikus akan terus meluas dan berimbas pada puso (gagal panen).


Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung Gatot Rahayu membenarkan, kini serangan hama tikus relatif meluas sejak awal Maret. “Sempat mengalami penurunan saat musim panen kemarin, diprediksi akan meluas saat MT II nanti,” jelasnya.


Gatot melanjutkan, pada dasarnya serangan hama tikus tidak mengenal musim maupun usia padi. Dari catatannya, sedikitnya ada 10 kecamatan yang terserang hama tikus. Yakni Kecamatan Karangrejo, Besuki, Campurdarat, Gondang, Kauman, Ngunut, Bandung, Pakel, Kedungwaru, dan Tulungagung. 10 wilayah ini merupakan wilayah endemik dan hampir setiap tahun selalu terserang hama tikus. “Untuk kali ini luasan yang terserang terbilang cukup luas meskipun baru di 10 kecamatan,” terangnya.


Rusaknya ekosistem menjadi salah satu penyebab utama serangan hama tikus. Seperti yang terjadi di Kecamatan Tulungagung, Kauman, Karangrejo, dan Gondang yang merupakan daerah kronis serangan tikus. Ini karena pola tanam yang tidak serempak. Sehingga memudahkan tikus melakukan perpindahan dari lahan satu ke lahan yang lain. “Justru kalau masa tanam tidak bersamaan, serangan tikus akan meluas. Pupuk tidak berpengaruh karena tikus senang tanaman yang rimbun,” terangnya.


Gatot tak menampik hama tikus termasuk hama yang cukup sulit untuk dikendalikan. Mengingat, tikus tidak mengenal musim maupun usia padi. Untuk itu, pola pengendalian harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan sesuai dengan variasi di lingkungan masing-masing. “Semisal dengan gropoyokan atau mungkin dengan pembersihan saluran irigasi. Ini memang harus dilakukan rutin, minimal satu poktan dulu. Alhamdulilah jika bisa serempak satu desa atau mungkin kecamatan,” urainya.


Untuk menekan potensi gagal panen, dispertan pun melakukan berbagai upaya. Antara lain melakukan monitoring lapangan, pengamatan, dan memberikan rekomendasi pengendalian di setiap kelompok. Tak hanya itu, pemberian bantuan pestisida juga menjadi salah satu upaya untuk melakukan pengendalian terhadap serangan hama tikus.


Sementara itu, Riyanto salah petani di wilayah Kecamatan Kauman mengaku padi miliknya yang baru berusia 5 minggu banyak yang terserang tikus. Tak jarang padi yang baru saja ditanam ini roboh dan mati sehingga dia harus menyulami lagi dengan tanaman baru. “Setiap tahun setiap tanam pasti ada serangan hama tikus,” jelasnya.


Dia pun mengaku bingung dalam mengatasi hama satu ini. Sebab, lahannya dikerjakan sendiri bersama dengan kerabatnya saja. Hanya sesekali dia memasang umpan pada lubang-lubang pematang yang dimanfaatkan sebagai sarang tikus. Selain itu, dia pun sebisa mungkin untuk melakukan pembersihan pada area saluran irigasi. “Ini supaya meminimalisasi serangan lebih banyak. Kami hanya berharap supaya tidak sampai gagal panen saja nanti,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq