KOTA, Radar Tulungagung - Aktivitas peternakan sapi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo terpantau normal. Seolah tidak terpengaruh hasil uji laboratorium terhadap sapi mati yang menyatakan terindikasi antraks. Bahkan, produksi dan penjualan susu sapi mereka berjalan lancar.
"Aktivitas tetap lancar seperti biasanya. Alhamdulillah tidak terpengaruh itu (antraks)," ucap salah satu peternak Desa Sidomulyo kecamatan Pagerwojo, Tego, kemarin.
Menurut dia, itu tak lepas dari peran pemerintah yang telah bergerak cepat menindaklanjuti kasus sapi mati di dusunnya, yakni Dusun Toro. Dengan memberikan vaksin kepada 13 sapi ternaknya. Baik itu sapi merah (daging) maupun perah. "Tak hanya sapi saya, semua sapi-sapi di desa kami di vaksin. Namun ada beberapa yang hanya diberi obat untuk meningkatkan imunitas karena kondisinya hamil dan lainnya," katanya.
Sebagai pencegahan dini terhadap penyakit yang dapat menyerang ternaknya, peternak lebih meningkatkan kebersihan kandang. Selain itu juga meningkatkan kebersihan diri, seperti mencuci tangan dengan sabun sesudah dan setelah aktivitas mengingat pandemi Covid-19 juga belum mereda di Kabupaten Tulungagung. "Setiap hari kandang dibersihkan. Selain upaya pencegahan, juga untuk kenyamanan ternak saya," tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan, Kepala Dusun (Kasun) Toro, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Agung Aris Saputra. Dia mengatakan, aktivitas masyarakat sudah seperti biasanya. Bahkan para peternak tetap melakukan aktivitas pemerahan susu sapi seperti biasa dan menjualnya ke pengepul. Karena sapi-sapi perah mereka telah dinyatakan sehat. Itu dibuktikan dari hasil skrining terhadap 44 sampel acak sapi hidup yang menunjukkan hasil negatif antraks. "Untuk harga susu sekarang ini sekitar Rp 5.400 per liter. Meski ada kasus ini, penjualannya jalan terus dari sapi-sapi sehat," jelasnya.
Lanjut dia, upaya pencegahan juga terus dilakukan pemdes dan dinas peternakan Kabupaten Tulungagung. Yaitu, dengan memberikan vaksin terhadap seluruh sapi sehat, termasuk di Dusun Toro dan Mbulusari yang terdapat kasus sapi mati. Selain itu juga memberikan obat untuk meningkatkan imunitas sapi agar tidak mudah diserang penyakit. "Warga juga sudah tidak khawatir. Karena ada posko ternak yang siap 24 jam," tegasnya.
Sementara jual beli sapi ke luar desa, masih belum diperbolehkan. Karena, masih diterapkannya karantina di desa tersebut selama 20 hari terhitung kasus indikasi antraks ditemukan pada Rabu (25/5) lalu.
"Berdasarkan data, jumlah sapi sekitar 1.600 ekor. Untuk di dusun Toro saja ada sekitar 500 an ekor. Selain perah, disini juga ada daging. Sedangkan sapi yang terindikasi antraks itu jenis daging dan masih berusia muda (pedet, Red)," terangnya.
Di tempat berbeda, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Mulyanto menjamin produksi susu dari ternak warga Desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo aman. Karena, dihasilkan dari sapi-sapi sehat. Makanya aktivitas mereka tetap jalan lancar. Bahkan diperbolehkan untuk dikirim ke pengepul maupun konsumen. "Mereka itu tahu, mana sapi sehat dan tidak. Semisal itu sapi sakit, produksi susunya tidak mungkin maksimal," pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq