KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - Anggaran yang besar membuat program geographic information system (GIS) di Tulungagung tidak akan selesai tahun ini. Bahkan, hingga kini masih hanya ada dua kawasan yang dilakukan pemetaan GIS secara manual. Yakni kawasan kota dan Gondang yang masih berjalan.
Disinggung berapa anggaran yang diperlukan untuk melakukan pemetaan manual oleh pihak ketiga, Direktur Utama (Dirut) Perumda Cahya Tirta Agung Kabupaten Tulungagung Joko Purnomo menjelaskan, anggaran untuk satu kawasan itu mencapai Rp 30 juta. Tinggal mengalikan saja dengan 13 kawasan yang kini teraliri air bersih. Anggaran tersebut hanya untuk pemetaan manual saja. Sedangkan untuk anggaran GIS ada tersendiri. “Kalau untuk masuk program GIS saya kurang tahu berapa anggaran detailnya. Karena program GIS sudah mulai dilakukan sejak periode lalu dan saya tinggal meneruskan saja,” jelasnya.
Diketahui bahwa kasus kebocoran pipa pendistribusi air memang sering terjadi. Maka dari itu, dengan GIS setidaknya bisa meminimalkan kebocoran air. Karena dengan program GIS, dapat diketahui data pelanggan, ketersediaan jaringan, serta sebaran aliran pipa air. Akan terpantau dengan mudah karena menggunakan sistem elektronik secara penuh. “Seperti status pemakaian air, merek meter, hingga verifikasi dan validasi koordinat pelanggan bisa diketahui dengan GIS. Dengan seperti ini, akan meminimalkan kebocoran air,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq