Ketua Yayasan Rukum Sejati, Hendra Gunawan mengaku sudah mendengar ada rencana pembangunan makam elit di Tulungagung.
Dengan kabar tersebut, menurutnya tidak ada masalah. Sebab, semakin banyak pilihan bagi warga untuk memakamkan anggota keluarganya. “Semakin banyak alternatif. Tidak hanya di Gunung Bolo dan Ngantru,” katanya.
Dia menegaskan, perkumpulan kematian warga Tionghoa yang dikomadaninya bergerak di bidang sosial. Jadi bentuk kepedulian kepada sesama ketika mengalami musibah. Tiap ada kematian berusaha membantu mereka yang terkena duka. “Ada sekitar 600 anggota. Kami tidak merasa tersaingi dengan adanya pemakaman elit,” ungkapnya.
Dengan kegiatan sosial ini, tentu akan mendapatkan pahala bagi mereka yang sudah menunjukkan kepedulian. “Nanti ada balasan tersendiri ketika sudah tidak berada di dunia,” terangnya.
Dia menjelaskan, jumlah kematian warga Tionghoa kota ini tidak banyak. Biasanya satu bulan hanya satu atau dua kali. Dengan kondisi tersebut, artinya tidak banyak kebutuhan untuk lahan pemakaman.
Kemungkinan, lanjut dia, pengguna kawasan pemakaman elit ini warga luar kota yang mampu. Lantaran untuk mendapatkan lahan, perlu merogoh ratusan juta. (*)
Editor : Choirurrozaq