KOTA, Radar Tulungagung – Tak hanya varian baru virus Covid-19, penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman bagi masyarakat Tulungagung. Terlebih pada pergantian musim seperti sekarang. Sebab, selama semester pertama 2021 ini, jumlah penderita DBD di wilayah Tulungagung terbilang tinggi, yakni 90 kasus. Dari 90 kasus ini, dua meninggal dunia. Sebaran kasus ditemukan di sejumlah kecamatan yang menjadi langganan temuan DBD setiap tahun. Seperti Kecamatan Boyolangu, Kedungwaru, Ngantru, Tulungagung, dan beberapa kecamatan yang memiliki jumlah penduduk padat.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Didik Eka mengatakan, lonjakan kasus terjadi pada Januari dan Maret. Yakni mencapai 21 dan 25 kasus. Sementara untuk Februari tercatat sebanyak 19 kasus, April 11 kasus, Mei 12 kasus, dan pertengahan Juni 2 kasus. “Dua kasus kematian kami temukan di bulan Maret. Memang Maret menjadi yang tertinggi untuk temuan kasus sepanjang 2021 ini,” jelasnya.
Dia melanjutkan, tingginya kasus DBD pada Januari dan Maret ini dipicu perubahan musim. Cuaca tak menentu karena perubahan musim inilah yang membuat siklus perkembangan nyamuk menjadi lebih cepat. “Cuaca menjadi faktor utama. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Mengingat vektor nyamuk ini menyukai lingkungan dan air yang bersih juga. Biasanya diperoleh dari air hujan yang masuk ke wadah terbuka di sekitar rumah,” urainya.
Jika dibandingkan pada tahun 2020 dengan periode yang sama, angka kasus DBD menurun. Tahun 2020 lalu pada periode yang sama, kasus DBD mencapai 185 kasus dengan tiga kasus kematian. Ini lantaran siklus perkembangbiakan nyamuk. Selain itu, pada 2020 lalu kerap kali terjadi anomali cuaca sehingga tiba-tiba hujan turun saat musim kemarau. Tentu ini berdampak pada perkembangbiakan nyamuk.
Lebih lanjut, pria berkacamata ini menganalogikan siklus nyamuk biasanya bertelur pada penghujung musim kemarau. Selanjutnya, wadah-wadah terbuka yang selama ini berisi telur nyamuk akan dipenuhi oleh air hujan saat musim hujan tiba. Saat itulah telur-telur nyamuk akan berproses menjadi larva dan berkembang menjadi nyamuk dewasa. Jadi ketika musim pancaroba tiba, terjadi lonjakan kasus temuan DB.
Untuk itu, pria berkumis ini mengimbau masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan rutin melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing. Terkait kegiatan fogging, dia mengaku belum melakukan kegiatan tersebut. Mengingat besaran kasus yang ditemukan cukup terkendali. “Sementara kami galakkan PSN dulu karena ini yang paling efektif,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq