KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Niatan peningkatan kualitas jaringan internet menuju generasi kelima (5G) di Tulungagung batal direalisasikan tahun ini. Lantaran jadwal penghentian siaran televisi (TV) analog atau analog switch off (ASO) diundur. Pasalnya, frekuensi tersebut akan dimanfaatkan dalam pemerataan sinyal internet, terutama wilayah pelosok desa.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunda ASO tahap I di wilayah Kota Banda Aceh, Kota Batam, Kota Serang, Kota Samarinda, Kota Tarakan, serta Kabupaten Nunukan. Itu direncanakan pada Selasa pekan depan (17/8). Pasalnya, rencana ini sudah disiapkan sejak ditetapkannya Undang –Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law pada November 2020. Dinas Kominfo Kabupaten Tulungagung khawatir apabila penundaan tersebut dapat berpengaruh pada percepatan jaringan internet 5G di Tulungagung.
Kepala Dinas Kominfo, Samrotul Fuad, melalui Sekretaris Dinas (Sekdin), Sumarji Kuswantoro mengatakan, penggunaan jaringan 5G salah satunya memanfaatkan frekuensi 700 megahertz (MHz) pada saluran analog yang kosong. Lantaran pemanfaatan tersebut dapat menghemat infrastruktur. Sehingga mengurangi kecenderungan lahan yang dialihkan untuk pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS). “Kalau 700 MHz hampir seluruh wilayah terjangkau sinyal. Akan lebih bagus jika wilayahnya dekat dengan BTS. Kualitas internet menjadi jauh lebih baik,” terangnya.
Dia menambahkan, pemanfaatan ruang frekuensi analog yang kosong dapat mengurangi potensi radiasi sinyal dari telepon seluler (ponsel). Sehingga penerapan era digital dengan spektrum yang bagus dapat dimanfaatkan langsung oleh seluruh masyarakat Kota Marmer. “Jadwal ASO yang mundur dapat memicu tertundanya perencanaan dengan pemerintah daerah (Pemda). Sehingga akan lebih lama lagi prosesnya,” sambungnya.
Pria berkumis itu melanjutkan, ada empat macam tantangan jika sudah siap dengan peningkatan 5G apabila ASO selesai direalisasikan. Pertama, menghubungkan konektivitas BTS melalui fiber optik. Dalam hal ini, peranti pengirim sinyal gelombang mikro (microwave) dilakukan fiberisasi. Artinya penerimaan jaringan internet oleh perangkat akan diproses lebih rinci. Ini tanpa melalui proses pemuatan (loading) yang lama. “Ini harus dilakukan sedini mungkin, apalagi setelah tahap ASO dimulai. Kami tidak ingin mengulang sejarang saat migrasi 2G ke 3G, yang mengakibatkan pengguna internet mengalami kendala” tuturnya.
Kedua, regulasi terhadap Pemda dengan melakukan koordinasi dengan industri telekomunikasi. Ini dalam hal memantau kualitas sumber sinyal, baik tiang, saluran, hingga kesiapan industri dalam migrasi 5G. Ketiga, ialah penggunaan frekuensi spektrum dalam menopang kualitas jaringan. Artinya setelah pemanfaatan ruang kosong sialan analog digunakan dengan baik, baru meningkatkan spektrum jaringan. “Setelah 700 MHz, baru mulai ke tahap 1,8 Gigahertz (GHz) sampai maksimal 28 GHz,” lanjutnya.
Sedangkan yang terakhir adalah mengkaji ekosistem wilayah 5G. Artinya, apabila ASO tahap I dimulai, maka wilayah tersebut akan dilakukan pemantauan untuk segera dilakukan peningkatan jaringan internet. “Dipantau terlebih dahulu. Kami kaji, baru disesuaikan seperti apa untuk Tulungagung nanti. Harapannya ASO agar dipercepat seiring dimulainya sosialisasi TV digital untuk Kota Marmer,” tandasnya.
Sementara itu, jadwal ASO migrasi TV digital untuk wilayah Tulungagung direncanakan pada 17 Agustus 2022. Sumarji berharap, Diskominfo dapat segera mengejar waktu yang terbilang lama untuk sampai pada tahun depan. (*)
Editor : Choirurrozaq