Tulungagung – Tiga hari usai kejadian kericuhan pencak silat di Kecamatan Bandung akhir pekan lalu, akhirnya polisi berhasil menangkap keempat pelaku pengeroyokan pada Selasa kemarin (7/2). Pihak Pagar Nusa menyatakan bahwa anggotanya tidak terlibat dalam konvoi yang berujung aksi anarkis itu.
Ketua Pengurus Cabang (PC) Pagar Nusa Tulungagung, Khoirul Huda mengatakan, kericuhan di Kecamatan Bandung pada Minggu (5/2) lalu tidak ada kaitannya dengan Pagar Nusa. Dia menganggap kejadian itu murni dari masyarakat atau bisa dikatakan oknum pencak silat. “Saya ketika diajak koordinasi dengan kapolres, dianjurkan untuk tidak ikut-ikutan. Kapolres juga bilang oknum yang melakukan kekerasan itu harus bertanggung jawab. Jadi, secara kelembagaan tidak ada kaitannya dengan Pagar Nusa,” ujar Huda ketika dihubungi melalui telepon.
Dia mengaku, pihak Pagar Nusa sedang tidak ada kegiatan pada saat kejadian. Dia mendengar jika sebelum kejadian ada acara di Trenggalek yang tidak diketahuinya dan tidak ada hubungannya dengan Pagar Nusa. Karena itu, pihaknya menyayangkan jika selalu dikaitkan dengan gesekan yang dilakukan oleh oknum. Dia mengungkapkan, tidak hanya itu, kerusuhan lain di sekolahan dan perlombaan burung kadang dikaitkan dengan perguruan pencak silat.
Pihaknya tidak terima jika selalu dikaitkan dengan kericuhan di Tulungagung. Perguruan yang dipimpinnya dinyatakan rukun dan aman dengan perguruan lainnya. Bahkan, selalu meminta pengamanan dari polisi jika ada acara. “Jika memang oknum itu pernah menekuni pencak silat, maka yang bertanggung jawab jangan hanya perguruan pencak silat. Pemerintah harus bertanggung jawab, seperti pihak desa. Ini harus dihadapi bersama,” terangnya.
Kenapa pemicu kerusuhan oknum pencak silat selalu disebabkan karena atribut? Huda menanggapi bahwa sudah disepakati jika pada malam hari tidak boleh memakai atribut. Namun, permasalahan yang ada selama ini selalu karena perselisihan atribut kaus atau bendera. Padahal, ada regulasi atribut resmi dari perguruan, tetapi kadang oknum membeli kaus dari situs jual beli online.
Sementara untuk penjaringan anggota, Huda menanggapi bahwa tiap perguruan memiliki persyaratan sendiri-sendiri. Dalam Pagar Nusa didominasi oleh anggota anak-anak. Dengan begitu, jika sejak kecil sudah berniat ikut, maka tentu diperbolehkan. Karena di tiap perguruan ada kelas-kelas sesuai usia dari anggota tersebut. “Kami tidak pandang bulu untuk menjaring anggota pencak silat. Jika sejak kecil sudah ada potensi dan rajin, ya kami terima. Pagar Nusa didominasi anak-anak, minimal sekolah SD. Kami mengedepankan prestasi dan tidak ada gesekan dengan perguruan lain,” pungkasnya. (jar/c1/din) Editor : Anggi Septian Andika Putra