Tulungagung – Mutakhirnya sistem tata kelola safe community yang diciptakan oleh dr Supriyanto Dharmoredjo SpB FINACS MKes, membuat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kagum. Tak ayal, sistem safe community tersebut akan dijadikan standarisasi pelayanan kesehatan rumah sakit di Indonesia. Tak hanya itu, dalam pidatonya, Budi Gunadi Sadikin sempat meminta Mas Dokter -sapaan akrab dr Supriyanto Dharmoredjo SpB FINACS MKes- untuk ikut bersama dalam kabinet Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tersebut.
Direktur RSUD dr Iskak Tulungagung, dr Supriyanto Dharmoredjo SpB FINACS MKes mengatakan, tata kelola safe community ini telah ia rintis sejak tahun 2014 silam. Kini setelah 9 tahun sistem tersebut berlaku, sistem pelayanan kesehatan di RSUD dr Iskak menjadi rumah sakit paripurna. “Sekitar 9 tahun RSUD dr Iskak ini menjadi perumahsakitan yang paripurna. Karena harus menyekolahkan dokter, lama sekolahnya, maka tidak bisa sebentar,” jelasnya kemarin (9/2).
Kemudian, setelah menyekolahkan puluhan dokter tersebut, baru membelikan alat-alat medis penunjang kinerja dalam melayani kesehatan masyarakat. Menurut dia, sistem safe community ini jika tidak menggunakan percepatan, maka hasil yang dirasakan akan lebih lama. “Kalau tidak pakai percepatan itu tidak mungkin bisa sampai 9 tahun, bisa lebih lama lagi,” ucapnya.
Adapun beberapa hal yang membuat kagum menkes, di antaranya yakni biaya pengobatan yang murah, tata kelola yang efektif, adanya sistem teknologi informasi terbuka, dan mudahnya akses yang tidak bergantung pada APBN. Dia menjelaskan, perkembangan tersebut berlandaskan pada teknologi informasi sehingga menciptakan sebuah sistem safe community untuk masyarakat Tulungagung. “Kalau ada yang bilang biaya pengobatan mahal, itu keliru. Biaya pengobatan itu murah, kalau tidak percaya datang saja ke RSUD dr Iskak,” paparnya.
Disinggung perihal ajakan menkes agar Mas Dokter ikut ke Jakarta untuk mengisi jajaran Kemenkes, dia mengaku, apabila sistem safe community dijadikan standarisasi pelayanan rumah sakit nasional, pihaknya merasa bangga akan hal tersebut. Namun, ketika disinggung hal itu, dia memilih untuk menyelesaikan dahulu tugas-tugas yang ada di Tulungagung. “Safe community itu masih fondasi, kan baru fondasinya yang selesai. Akan lebih baik apabila sistem ini secara keseluruhan selesai dan menjadikan Tulungagung sebagai penolong Indonesia,” tutupnya. (mg2/c1/din)
Editor : Anggi Septian Andika Putra