Tulungagung - Kasus perkelahian antar-perguruan pencak silat di Tulungagung tiada habisnya. Bahkan belakangan ini kasus perkelahian tersebut melibatkan anak dengan usia remaja. Maka perlu perhatian dari seluruh pihak untuk meminimalkan kejadian serupa terulang kembali.
Pengamat psikologi, Nuzulunni’mah mengatakan, usia remaja kerap terlibat dalam kasus tawuran antar-perguruan pencak silat di Tulungagung. Remaja dalam pertumbuhan tergolong masa tumbuh kembang untuk mencapai kematangan. Dalam hal ini kematangan dalam tumbuh kembang pada manusia memiliki arti luas, mencakup kematangan secara mental, emosional, sosial dan fisik. “Remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi kepada masyarakat dewasa dengan mengandung banyak aspek afektif,” jelasnya kemarin (12/02).
Secara umum perselisihan antar-perguruan pencak silat yang berujung dengan kasus kekerasan melibatkan remaja ini memiliki latar belakang masalah yang kompleks. Adapun permasalahan tersebut meliputi permasalahan faktor sosiologis, budaya, psikologis, kebijakan pendidikan dalam arti luas, kebijakan publik, serta kebijakan di dalam lembaga pencak silat sendiri. “Apalagi usia-usia remaja ini memiliki kecenderungan ingin menonjol dan labilnya pengendalian emosional,” ucapnya.
Ditinjau berdasarkan dampak, perkelahian antar-kelompok pencak silat melibatkan remaja ini memiliki dampak merugikan banyak pihak. Setidaknya terdapat empat dampak negatif dari perkelahian antar-remaja tersebut. Pertama, dampak bagi pihak keluarga yang terlibat perkelahian apabila mengalami cedera atau bahkan tewas akibat perkelahian tersebut. Kedua, rusaknya fasilitas umum. Ketiga, menimbulkan traumatif bagi masyarakat sekitar. Dampak terakhir yakni berkurangnya makna dari nilai toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. “Remaja itu cenderung berpikir kekerasan adalah cara paling efektif untuk memecahkan masalah mereka. Karena itu memilih untuk melakukan apa saja agar tujuanya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat,” paparnya.
Jika dibedah menggunakan kacamata psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu dan kondisi eksternal tertentu. Begitu halnya dalam kasus perkelahian remaja tersebut. Secara rinci terdapat sedikitnya empat faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat pekelahian antar-perguruan silat di Tulungagung.
Pertama, yaitu faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya secara internal kurang mampu untuk melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang terbilang kompleks dan memiliki keanekaragaman yang banyak. Meski situasi itu biasa timbul pada setiap orang, tetapi pada remaja yang terlibat perkelahian dipicu karena mereka kurang mengatasi kondisi tersebut. “Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang atau pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustasi, memiliki emosi labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka sangat membutuhkan pengakuan,” ungkapnya.
Kedua yakni faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi dengan kekerasan, jelas akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Akibatnya mereka akan belajar bahwa kekerasan adalah suatu bagian pada dirinya. Hal tersebut berujung pada perilaku wajar ketika dirinya melakukan kekerasan. Sebaliknya, orang tua yang terlalu memproteksi anak, ketika tumbuh menjadi remaja akan menjadi individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. “Jadi faktor pola asuh dari keluarga ini cukup dominan dalam perkembangan remaja. Karena apa-apa yang mereka lihat sedari kecil pasti akan mempengaruhi tumbuh kembangnya, bahkan hingga anak itu tumbuh dewasa,” ucapnya.
Kemudian faktor lembaga pencak silat. Dalam hal ini lembaga pencak silat harus berposisi sebagai lembaga yang mendidik siswanya. Tidak hanya dalam melindungi diri, akan tetapi juga pada toleransi dalam menghargai perbedaan, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.
Menurut dia, hal tersebut perlu diterapkan dari internal lembaga dan diajarkan dalam kurikulum lembaga tersebut. Berbeda halnya jika orang luar (contohnya dalam hal ini psikolog) yang masuk dengan memberikan pengertian serupa. “Karena mereka ini dididik untuk menjadi seorang pendekar, jadi ya perlu pelatihnya atau orang yang dihormati dalam lembaga itu untuk mengajarkan toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain,” paparnya.
Terakhir, yakni faktor lingkungan. Lingkungan rumah, pergaulan dan sekolah, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Dalam kasus ini, faktor lingkungan tersebut dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, baru kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku perkelahian. “Misalnya lingkungan yang sempit dan kumuh, atau anggota lingkungan berperilaku buruk. Itu semua akan merangsang remaja untuk bereaksi seperti apa yang lingkungan bentuk,” tutupnya. (mg2/din) Editor : Aburizal Sulthon Hakim