Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suryanto, Sulap Limbah Akar Jati Jadi Kerajinan Ukir Berharga Jutaan Rupiah

Intan Puspitasari • Rabu, 22 Februari 2023 | 19:11 WIB

Tulungagung - Warga Desa Bono, Kecamatan Boyolangu, memang terkenal dengan hasil perkebunannya yakni buah belimbing. Namun di tengah itu, terdapat rumah sederhana yang hanya sedikit terlihat pohon belimbing dan banyak ditemui kerajinan kayu. Rumah itu milik Suryanto, atau akrab dipanggil Yanto.

Karya ukiran Yanto ada yang menghiasi depan rumah memenuhi halamannya, ada juga di terasnya. Beberapa ukiran yang belum selesai memang sengaja ditaruh di halaman rumah, tapi masih layak untuk dilanjutkan. Ukirannya tersebut awet meskipun terkena teriknya cahaya matahari dan derasnya hujan.

Ketika dihitung, ada sekitar lima hingga tujuh karya ukiran di halaman rumah Yanto yang belum selesai dikerjakan. Pada sisi timur terdapat gubuk berisi bahan-bahan kayu yang akan dibuat ukiran. Kayunya tampak besar diperkirakan berdiameter 60 sentimeter sehingga harus diangkat lebih dari dua orang.

“Saya membuat kerajinan ukiran dari akar kayu jati sejak tahun 2012. Namun, sebelum itu bekerja di tempat mebel yang bahannya dari limbah kayu jati. Bentuk kerajinan itu di antaranya berupa ukiran, relief, hingga patung. Tergantung pesanan,” ujar Yanto ketika ditemui kemarin (21/2).

Keahlian Yanto membuat kerajinan limbah kayu ternyata didasari ilmu yang didapat dari pengalaman kerjanya. Lantaran sebelum tahun 2012, dia pernah bekerja di tempat mebel selama beberapa tahun hingga akhirnya memutuskan berkarya mandiri. Dia mengambil bahan dari temannya yang memang mengumpulkan akar kayu jati erosi.

Siang hari usai kumandang azan Duhur kemarin, Yanto ditemui di tengah merapikan kerajinan kayu buatannya. Beberapa karyanya bertemakan binatang seperti ikan, burung, dan wayang. Itu sesuai bentuk bahan yang dimiliki dan permintaan pemesan.

“Saya lebih cenderung ke bentuk punokawan, bentuk lain tergantung pesanan. Kalau bisa saya layani. Ini yang banyak model binatang. Durasi pengerjaannya 10 hari hingga 2 bulan, tergantung tingkat kesulitan,” terangnya.

Dia melanjutkan, model kerajinan kayu yang kecil bisa diselesaikan dalam waktu 10 hari, asalkan bentuk ukirannya tidak rumit. Namun, juga terlihat ukiran kayu berbentuk ikan di teras rumahnya yang dibuat lebih dari sebulan. Ada juga bentuk patung burung merpati kecil yang diselesaikan kurang dari sebulan.

Bahkan, ukuran dan tingkat kerumitan juga menentukan harga kerajinan limbah kayu jati ini. Dia pernah menjual ukiran berkisar Rp 3 juta hingga Rp 7 juta untuk satu barang. Peminatnya dari masyarakat Tulungagung, Surabaya, hingga Jakarta, karena dia hanya promosi dari mulut ke mulut.

Namun, bisa seluas itu yang mengetahui kemampuannya. “Kesulitan dalam pembuatan yakni menyesuaikan bahan kayu dengan permintaan. Karena kadang pemesan meminta model yang tidak sesuai bahan. Selain itu, ada beberapa barang yang belum selesai karena tidak ada kabar dari pemesan. Saya hanya menunggu kabarnya, mungkin kalau sudah lama bisa saja dijual," pungkasnya. (*/c1/din) Editor : Intan Puspitasari
#kerajinan #limbah #akarkayujati