Tulungagung – Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan ibadah salat maupun ibadah-ibadah lainnya. Tak ayal, arsitektur serta ornamen-ornamen pada bangunan masjid dibuat seindah dan senyaman mungkin agar jemaah betah berlama-lama ibadah di dalamnya. Hal serupa tersemat ketika melihat arsitektur serta ornamen di masjid Al-Muhajirin.
Masjid di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, itu seketika membuat takjub saat kita masuk ke dalamnya. Bagaimana tidak, beragam bangunan seperti mimbar, tiang, serta daun pintu dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang membelalakkan mata ketika melihatnya. Tak hanya itu, selebihnya terdapat sembilan lampu kuno turut memperindah nuansa masjid tarsebut. Ditambah, ubin masjid berasal dari marmer asli dari Tulungagung sehingga terkesan adem serta memberikan kenyamanan bagi jemaah yang beribadah di dalamnya.
Pengurus masjid, Suwanto mengatakan, Masjid Al-Muhajirin ini merupakan masjid yang didirikan H Masyhuri dan para sahabatnya. Waktu itu, sebagian besar bangunan masjid yang berada di Desa Gedangsewu tersebut merupakan pindahan dari Masjid Jamik Kabupaten Tulungagung. “Hampir 80 persen yang tersemat di masjid ini merupakan pindahan dari masjid jamik atau Masjid Al-Munawwar. Bedanya hanya jendela ventilasi yang mengelilingi masjid sama fondasi tiang penyangga. Dulu dari kayu, sekarang marmer,” jelasnya kemarin (26/3).
Berdasarkan data yang ada, masjid Al-Muhajiriin diresmikan pada Jumat Kliwon, 9 Muharam tahun 1413 Hijriah atau sekitar 10 Juli 1992 Masehi.Menurut dia, peresmian masjid dengan puluhan saksi bisu peradaban Islam di Kota Marmer ini diresmikan secara langsung oleh bupati kala itu, yakni Jaefoedin Said. “Kemungkinan tiga tahun sebelum diresmikan, bangunan ini sudah diproses pembangunannya, jadi ya seperti itu,” ucapnya.
Tak hanya itu, ornamen penuh dengan ukiran indah yang tersemat pada masjid Al-Muhajiriin juga memiliki sejarah luar biasa. Bagaimana tidak, ukiran-ukiran di setiap jengkal baik tiang, mimbar, tempat imam memimpin salat, dan daun pintu merupakan karya dari Imam Hambali atau biasa dikenal dengan sebutan Mbah Kumbang. “Ukiran-ukiran ini konon dulunya setiap inci dibuat dengan zikir sehingga ukiran karya beliau bisa seindah ini. Mbah Kumbang juga penyiar Islam di tanah sini,” paparnya.
Lantas, sembilan lampu-lampu gantung bernuasa kuno juga menambah kesan estetik ketika masuk ke dalam masjid tersebut. Menurut dia, tujuh dari sembilan lampu tersebut masih asli pindahan dari masjid jamik pada masa itu, sedangkan dua lainnya merupakan lampu yang dibeli dari rumah-rumah kuno yang ada di Tulungagung. “Ada beberapa ornamen yang diminta masjid-masjid lain. Tapi selang satu atau dua tahun, ornamen yang diminta itu kembali. Tidak tahu alasannya kenapa, itu masih misteri,” tutupnya. (*/c1/din) Editor : Intan Puspitasari