Tulungagung – Ribuan pelanggan Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Cahya Agung Tulungagung tak mendapatkan pelayanan maksimal, akibat pipa putus setelah terkena tanah longsor di Desa/Kecamatan Pagerwojo. Pelanggan merasa bahwa debit air yang keluar sangat kecil sampai tak menetes sama sekali alias mati. Meski demikian, ganti rugi tidak akan didapatkan oleh mereka.
Direktur PDAM Tirta Cahya Agung Kabupaten Tulungagung, Joko Purnomo mengatakan, acuan pembayaran air pada salah satu perusahaan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung tersebut adalah meteran. Artinya, kalau memang tidak ada air keluar, meteran yang ada di setiap pelanggan juga tidak akan bergerak. “Sehingga kita tidak ada istilah potongan harga atau yang semacamnya karena kondisi yang disebabkan bencana alam ini,” jelas Joko, sapaan akrab pria tersebut.
Dia mengatakan, banyak aduan dari masyarakat karena palayanan kurang maksimal selama beberapa hari tersebut. Namun, paling tidak aduan yang dilayangkan bukan untuk meminta ganti rugi, melainkan menanyakan sampai kapan kondisi debit air yang sedikit akan terjadi. Sebagian juga memiliki alternatif lain, yakni menggunakan pompa air ketika air dari PDAM tidak berfungsi.
“Kalau yang hanya mengandalkan air bersih dari PDAM, itu yang susah. Tapi, kita sudah menyediakan tiga truk tangki untuk meng-cover hal itu,” jelasnya.
Sebelumnya, pada Kamis (23/3) dini hari lalu, terjadi hujan deras di wilayah Kecamatan Pagerwojo. Beberapa titik longsor, salah satunya adalah di tebing pinggir sungai di Desa Mulyosari, yang tertanam pipa transmisi milik perusahaan air minum tersebut.
Terjadi kerusakan pada pipa transmisi utama sehingga PDAM Tulungagung harus kehilangan 12.000 meter kubik aliran air setiap harinya untuk disebarkan kepada pelanggan di tujuh kecamatan. Mulai dari Kecamatan Tulungagung, Kauman, Gondang, Karangrejo, Boyolangu, Sumbergempol, sampai sebagian wilayah Kecamatan Pagerwojo. Dalam tujuh kecamatan tersebut, terdapat sekitar 14 ribu pelanggan yang setiap harinya menggunakan air bersih dari PDAM.
Pipa transmisi berdiameter 400 milimeter (mm) yang rusak terdampak longsor di wilayah Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, saat ini sedang dalam proses perbaikan. Sampai Selasa (28/3) kemarin, progresnya telah mencapai 75 persen dan akan dirampungkan pada hari itu juga, asalkan cuaca bersahabat.
Dia mengungkapkan, sebenarnya perbaikannya ditargetkan dalam waktu tiga hari sudah selesai. Namun, beberapa hari ini hujan datang mulai siang sampai malam sehingga menghambat pekerjaan yang dilakukan.
“Kalau tidak hujan, insya Allah perbaikan sudah selesai hari ini (kemarin, Red). Pipa sudah bisa dicoba agar aliran air bersih kepada masyarakat bisa maksimal lagi,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu pelanggan PDAM asal kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung, Faizal mengatakan, sejak Kamis lalu air PDAM yang keluar sudah sangat kecil. Debit kecil, bahkan pernah juga dalam rentang waktu beberapa hari tersebut air yang keluar malah keruh selama sehari penuh. Untungnya, meskipun dalam kondisi keterbatasan, air masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, entah untuk kebutuhan dapur maupun mandi.
“Airnya keluar sedikit sekali, tapi masih cukup kok kalau keran air dibuka terus,” katanya.
Pelanggan lainnya asal Kelurahan Tamanan, Kecamatan Kota, Fatur menambahkan, banyak kegunaan dari air PDAM dalam keseharian. Saat parah-parahnya, dia harus menumpang mandi ke tetangganya karena air yang keluar sangatlah kecil. (nul/c1/din) Editor : Nurul Hidayah