TULUNGAGUNG - Sejak usia sangat belia, Sukardi sudah bergelut dengan dunia ternak khususnya kambing. Saat ini, kandangnya diisi oleh beberapa kambing jenis etawa ras Kaligesing dengan total nilai ratusan juta rupiah. Jumlah yang fantastis itu akibat kambing gacoan kandangnya sering menang kontes.
Saat ditemui di rumahnya di kawasan Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Sukardi memamerkan dua kambing etawa yang baru saja datang sekitar sebulan lalu. Dua kambing itu berjenis kelamin jantan dan betina dengan usia terbilang masih muda, sekitar tujuh bulan. Tapi untuk mendapatkan dua ekor itu, Sukardi rela merogoh kocek sampai Rp 100 juta.
Lalu, Sukardi mengeluarkan maskot kandangnya (Sukardi Breeding), kambing etawa jantan berukuran besar yang diberi nama Rajawali. Usut punya usut, Rajawali sudah beberapa kali mendapatkan juara pada kontes kambing ras Kaligesing. Terakhir adalah mendapatkan juara tiga pada kontes yang diadakan di Kabupaten Ponorogo.
“Ada seseorang dari Kota Gresik menawar Rajawali dengan harga Rp 100 juta. Tapi sengaja tidak saya berikan karena kambing ini masih menjadi maskot kandang dan ke depan masih akan dibuat indukan. Pun orang-orang juga akan mencari anakan dari indukan juara kalau tidak mendapatkan indukan yang diincar,” jelas Sukardi, Senin (17/4) lalu.
Dari pengalamannya selama ini, faktor penentu kambing etawa yang baik untuk kontes adalah dari genetik, selain dari perawatan yang dilakukan sehari-hari. Dengan indukan yang bagus, peluang untuk mendapatkan peranakan unggul akan lebih tinggi. Karakteristiknya memang sangat kompleks, mulai dari warna sampai karakter wajah pada kambing etawa. Makanya, Rajawali tetap dipertahankan meski ada yang sudah menawar dengan harga tinggi untuk ukuran kambing jenis etawa.
“Semisal satu indukan kontes memiliki delapan anak, tidak semuanya memiliki kualitas baik, hanya satu atau dua di antaranya saja. Anakan yang terbaik itu tetap dipertahankan di kandang dan anakan lainnya akan dijual. Hasil penjualan itu diputar untuk memberikan perawatan maksimal kepada calon kambing etawa kontes peranakan yang terbaik,” katanya.
Sukardi melanjutkan, selain dari indukan terbaik, kambing etawa kontes harus diberikan perawatan yang baik. Minimal dalam satu minggu harus dimandikan, kemudian bagi kambing yang masih anakan wajib diberi susu kambing sekitar 2 liter setiap harinya. Sementara untuk pakan, layaknya kambing pada umumnya, yakni rumput atau tambahan-tambahan lainnya.
Kambing etawa di kandangnya yang memiliki harga fantastis, dia menjelaskan, faktor utamanya adalah karena kambing sering menang dalam sebuah kontes. Atau anakan kambing dari indukan yang memiliki kualitas nomor wahid. Tatkala mengikuti kontes sampai ke luar daerah, salah satu keuntungannya adalah bisa menambah teman serta kenalan. Maka, Sukardi juga tidak jarang mengirim kambing hasil breeding-annya ke luar daerah karena kenalan-kenalan saat ikut kontes.
“Kalau kontes sering mengikuti, bahkan sampai ke Pulau Lombok. Sebenarnya pun kalau menang hadiahnya tidak banyak, lebih banyak biaya operasionalnya. Tapi kalau kambingnya menang, harganya bisa menukik tinggi, apalagi kalau kontesnya sekelas nasional seperti kontes kambing etawa Piala Presiden,” tuturnya.
Apa yang dilihat sekarang bukannya tanpa rintangan. Beberapa waktu lalu, Sukardi juga kehilangan tujuh ekor kambing di kandangnya karena mati terkena penyakit mulut dan kuku (PMK) yang juga menyerang Tulungagung. Di dalamnya termasuk kambing-kambing kontes yang juga ikut mati, kalau ditotal kerugiannya sampai Rp 125 Juta. “Waktu ada PMK kemarin, kambing di kandang saya banyak yang mati. Tapi untuknya saat ini sudah mulai pulih kembali kondisinya,” katanya. (*/c1/din) Editor : Nurul Hidayah