“Setahun lalu sempat panen, dari populasi 3 ribu ekor dapat 1,5 ton,” ungkap pria 46 tahun itu. Menurut Misbachul Choiri, hasil budi daya ikan gurami sangat menjanjikan. Karena dari kapasitas seribu ekor, standarnya hanya menghabiskan pakan sebanyak 25 sak atau 750 kg. Dia dari awal selalu menggunakan metode pakan fermentasi yang tujuannya dapat menambah kandungan protein. “Sehingga bisa menambah bobot ikan dan dapat mengurangi jumlah penggunaan pakan pokoknya,” jelas pria ramah ini. Untuk market, panen ikan gurami masih diambil bakul lokalan Tulungagung. Dia memilih budi daya ikan gurami karena tidak menyita waktu yang ada atau tidak mengganggu aktivitas utama di kantor.
Budi daya ikan gurami bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan dilakukan secara santai. Sebab, perawatannya mudah yakni hanya memberi pakan pagi dan sore, serta perawatan sirkulasi dan kebersihan air kolam secara khusus. Yang pasti, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam mengisi waktu luang dan ada penghasilan ekonomi.
Misbachul Choiri berharap agar masyarakat selalu kreatif dan inovatif karena kegiatan sampingan ini juga bisa mengedukasi masyarakat Desa Tunggangri. Serta merupakan tatanan terhadap masa depan dan peningkatan perekonomian masyarakat. “Hasilnya mampu mengangkat perekonomian serta perkembangan desa,” ungkap bapak dua anak ini. (*/c1/ynu) Editor : Aburizal Sulthon Hakim