Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tarung Tugu, Cara Perupa Tulungagung Mengkritik Tugu Reog Kendang

Nurul Hidayah • Senin, 8 Mei 2023 | 17:27 WIB
PEDULI:Perupa usai menggambar on the sport di Taman 0 Km. (FOTO : KOMUNITAS GULUNG TUKAR UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)
PEDULI:Perupa usai menggambar on the sport di Taman 0 Km. (FOTO : KOMUNITAS GULUNG TUKAR UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)
TULUNGAGUNG - Ternyata Tugu Reog Kendang yang berada di perempatan TT dan baru dibangun awal tahun ini, ada tanpa rembuk dengan para seniman Tulungagung. Hal itu direspons oleh Gulung Tukar dengan mengajak para pencinta seni visual untuk menggambar bersama secara on the spot.

Sejak pukul 15.00 WIB, sekitar perempatan TT hingga Taman 0 Kilometer Tulungagung dipenuhi anak muda yang memegang kertas, pensil, dan alat warna. Mereka menggambar Tugu Reog Kendang secara langsung sesuai imajinasinya dan hal-hal yang bersangkutan dengan Kota Marmer ini. Banyak gambar yang objeknya melebihi Tugu Reog Kendang yang asli.

Namun, tidak semua perupa yang menggambar secara on the spot ini bisa dengan cepat menyelesaikan gambarnya. Ada peserta yang butuh konsentrasi dan keheningan untuk menciptakan sebuah seni visual yang sesuai dengan imajinasinya. Di lain sisi, juga ada peserta yang menggambar sekitar 1 jam hingga akhirnya bisa selesai dengan dilengkapi petunjuk.

“Tugu Reog Kendang ini dipilih untuk menjadi objek utama atau referensi gambar on the spot. Hal itu karena tugu ini berada di pusat kota dan menjadi branding dari Tulungagung. Setelah kami rembukan, ada hal yang bisa lebih bagus lagi,” tutur kurator Gulung Tukar, Benny Widyo, ketika ditemui kemarin (7/5).

Para seniman ini mengkritisi adanya Tugu Reog Kendang sehingga peserta yang menggambar bisa membuat karya sesuai bayangan sebuah tugu yang diinginkannya. Ada yang menggambar reog kendang, ada juga yang terlihat menggambar tugu Dwarapala, dan lainnya. Apalagi, para seniman juga penasaran tentang hal apa yang mendasari reog kendang dipilih untuk menjadi tugu di pusat kota Tulungagung.

Benny penasaran, apakah karena reog kendang merupakan seniman asli Tulungagung sehingga dipakai sebagai tugu. Atau ada alasan lain dari penginisiasi tugu ini untuk memilih reog kendang berdiri dengan bangunan sekitar dua meter itu.

“Seniman ingin ikut andil, bukan untuk membantu membangun proyek baru. Namun sebelum adanya tugu ini, pemerintah yang membuat bisa melakukan diskusi terbuka lebih dulu dengan seniman Tulungagung sehingga ada urun rembug,” ungkapnya.

Menurut dia, pihaknya sebagai kelompok kreatif ingin bisa berperan dalam urusan branding kota. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi komunitas perupa seni untuk membuat program bersama. Ada 7 komunitas seni yang nantinya membuat program bersama dan bisa menjalin kerekatan antarseniman.

Dia menganggap kegiatan bertajuk “Tarung Tugu” ini menghasilkan gambar on the spot yang berbeda dari umumnya dengan menggambarkan objek di sekitarnya. Namun, gambar ini ditawarkan dengan tugu atau monumen yang mempresentasikan Tulungagung.

“Hasilnya, gambar dari para peserta sangat beragam. Karena bisa berdasarkan pengalaman atau cerita yang pernah didengarnya. Misalnya, Reco Pentung, Dwarapala, atau Wajakensis,” tuturnya.

Dia sempat melihat gambar dari salah satu peserta bernama Prap yang membuat empat gambar. Gambar utamanya yakni reog kendang, tetapi ditambah dengan patung Lembu Suro. Ada juga yang menggambar pohon beringin, yakni cerita Ringin Kurung.

Spesial dari kegiatan ini, ada peserta seniman residensi dari United Kingdom (UK) yang bernama Ella Chedburn. Dia menggambar pohon beringin yang di bawahnya terdapat air mengalir dengan baskom di bawahnya. Hal itu karena Ella sebelumnya melakukan riset perihal cerita Ringin Kurung dan banjir Tulungagung.

“Setelah ini kami ada pameran untuk menunjukkan karya para peserta kepada publik atau pencinta seni. Namun, tempat dan kapan waktu pamerannya masih akan dirembukkan. Selain ruang inspirasi, inginnya pameran ini juga sebagai ruang diskusi. Nantinya juga mengundang pelaku seni dan stakeholder,” pungkasnya. (jar/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah
#tulungagung #bangun sukses #reog kendang #tarung tugu