Diusianya yang tidak lagi muda ini, Supriatin masih lincah melewati berbagai halang rintang pada bidang olahraga motor trail. Olahraga ekstrem yang sarat dengan patriarki ini justru menjadi tantangannya untuk dapat berprestasi pada bidang tersebut
Dia tak tanggung-tanggung berhasil meraih berbagai penghargaan dan juara pada ajang perlombaan motor trail. Meski diusia setengah abad ini, jiwa muda Supriatin tergambar jelas ketika mengendarai motor trail. Terhitung sudah 12 tahun lamanya berkecimpung dengan olahraga yang notabene digemari para laki-laki. “Kalau mencoba motor trail pertama kali itu ditahun 2011,” jelasnya kemarin (8/5).
Perempuan asal Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, ini mengenal motor trail pertama kali dari suaminya. Setelah mencoba mengendarai motor dengan mesin yang bertenaga 150 cc ini justru membuat adrenalinnya terpacu. “Karena menantang, jarang-jarang perempuan berani mengendarai motor trail. Dulu itu dikenalkan sama suami, akhirnya saya dan anak saya jadi ikut suka dengan olahraga motor trail,” ucapnya.
Dia kerap mengendarai motor trail di pegunungan yang berada di sekitar kediamannya sebagai bentuk latihan. Beragam halang rintang dapat dijumpainya pada sesi latihan tersebut.
Namun sensasi pada saat latihan dengan perlombaan sangat terasa sekali perbedaannya. “Berbeda kalau latihan itu kan biasa saja seperti biasanya. Meski rintangannya sama susahnya, sensasinya tetap berbeda. Latihannya, bagaimana melewati rintangan-rintangan itu dengan tetap mengendarai motor,” paparnya. Kepiawaiannya dalam mengendarai motor trail tersebut kerap diuji dengan mengikuti berbagai perlombaan dari olahraga ekstrie. Alhasil dia sering menjadi langganan juara pada setiap perlombaan motor trail. Terakhir berhasil mendapatkan podium urutan ke-3 pada ajang CTM2 sebagai penakluk tanjakan. “Baru tadi malam pulang dari Malang. Alhamdulillah dapat juara 3 sebagai penakluk tanjakan,” ungkapnya.
Tak dapat dipungkiri karena menggeluti trail, Supriatin kerap mendapatkan cedera pada saat mengikuti ajang perlombaan tersebut. Terakhir sempat mendapatkan luka pada bagian kaki sehingga membuatnya terpaksa istirahat mengendarai motor trail selama 2 bulan.
“Pasti pernah cedera lah. Terakhir itu cedera pada kaki sampai 2 bulan istirahat, di tangan pernah. Maka perlu banyak perlindungan sebelum mengendarai motor trail, seperti perlindungan sikut, dengkul dan leher,” tutupnya. (*/din) Editor : Nurul Hidayah