Gulung Tukar tidak kehabisan ide karya-karya seni, selalu ada hal-hal baru yang ditampilkan. Apalagi, pameran yang dibuatnya selalu menampilkan karya berkaitan dengan Tulungagung. Seniman residensi asal Britania Raya alias Inggris yang bernama Ella Chedburn ini menjadi daya tarik bagi penikmat seni yang datang di pameran seni Gulung Tukar.
Gulung Tukar menyebut, pamerannya kali ini bertajuk The Trees and The Wires yang berfokus pada alam dan jaringan. Pameran ini telah dibuka sejak 6 Mei lalu di Gutu Haus, di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, yang hampir tiap malam diramaikan penikmat seni.
Dalam pameran ini, ada beberapa karya seni milik seniman Gulung Tukar dan residensi Ella Chedburn. Ada karya 3D yang ditampilkan di kotak air dengan beberapa gambar, seperti kepala banteng, nakhoda, roda, dan lainnya. Selain itu, ada foto-foto arsip dari sejarah babat Tulungagung yang ditampilkan secara monokrom. Bahkan, ada juga instalasi baju berwarna putih yang dipakai penari bernama Anugrah Natalin ketika tampil di Taman Kartini Alun-Alun Tulungagung pada 5 Mei lalu. Tariannya menceritakan tentang alam, air, dan ekosistemnya.
“The Trees and The Wires sebenarnya adalah sebuah program yang memang sengaja mengusung alam, yang dikoneksikan dengan sejarah dan arsip dari Tulungagung. Total program ini selama 3 bulan, termasuk mengundang seniman residensi dari UK,” ucap Koordinator Gulung Tukar, Benny Widyo.
Dia menceritakan bahwa sebelum adanya pameran ini, Ella Chedburn -seniman dari Inggris- telah tinggal di Tulungagung sejak dua bulan lalu. Satu bulan pertama digunakan untuk riset, yang didasarkan dari cerita atau mitos tentang Ringin Kurung. Kisah itu bercerita tentang penanaman pohon beringin yang berada di pusat kota Tulungagung.
Selama proses riset, ternyata Benny dan Ella menemukan bahwa cerita Ringin Kurung itu berkaitan erat dengan Babad Tulungagung. Hal itu digunakan sebagai pintu masuk karena pihaknya juga ingin mempelajari dan mengamati sejarah banjir di Tulungagung. Dari situ, Benny dan seniman yang lain mengetahui bagaimana peristiwa itu terjadi dan pengelolaannya.
“Kami menemukan banyak layer yang tidak hanya satu cerita. Ada cerita ritual kisah Ringin Kurung yang ada dalam beberapa versi dan situs-situs fisik terkait penanganan banjir. Namun, karena kami riset seni sehingga memainkan arsip untuk dibuat karya,” terangnya. (jar/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah