Ella panggilan akrabnya, memang diundang komunitas Gulung Tukar, dengan alasan bisa menjadi seniman residensi untuk membuat karya kolaborasi. Dia dipilih lantaran praktik artistiknya yang interdisiplin dan sejalan dengan konsep diusung Gulung Tukar. Dia datang sejak 21 Maret 202 dan akan kembali ke negaranya 19 Mei nanti.
“Saya memang awalnya seniman seni rupa, namun tertarik dengan hal-hal berkaitan dengan folklore dan mitos. Maka dari itu, saya tertarik ketika bisa berkesempatan kolaborasi dengan Gulung Tukar,” ujar Ella ketika ditemui di Gutuhaus, Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, kemarin (15/5).
Apalagi di negara barat, dikenal dengan ilmu pengetahuannya yang tinggi. Maka Ella tertarik terhadap cerita rakyat, mitos, seni dan budaya yang ada di negara timur, termasuk di Indonesia. Menariknya, dia datang ke Tulungagung untuk menyetarakan ilmu pengetahuan atau saintifik yang dimiliki dengan mitos-mitos di masyarakat Indonesia.
Bahkan kesempatan ini menjadi yang pertama kali Ella melakukan kegiatan kesenian di Asia, yang langsung tertuju pada kota kecil di Jawa Timur (Jatim). Namun untuk sekedar berkunjung ke negara Asia, ini yang kedua kalinya setelah Jepang.
“Saya mengalami banyak perbedaan kultur sosial di Tulungagung. Apalagi ketika berkolaborasi karya atau mengerjakan proyek seni, di sini cukup santai namun ketika menjelang deadline yang terburu-buru,” ungkap Ella.
Hal itu tentu berbeda kebiasaan daripada yang selalu dilakukan Ella dengan teman-temannya di Inggris. Lantaran di negaranya, Ella terbiasa dengan sistem kerja yang intensitasnya cukup naik dan bisa selesai dengan waktu cepat dengan berakhir perasaan santai. Syukurnya, dia ikut menikmati cara kerja para seniman yang berkolaborasi dengannya.(jar/din/rka) Editor : Nurul Hidayah