Selain menjadi staf administrasi bidang pelayanan Universitas Tulungagung, bapak dua anak ini sangat semangat menekuni usaha pengolahan kopi. Usaha ini dimulai dari biji kopi yang sudah dikupas kulitnya, disangrai sampai matang, lalu digiling dan dikemas dalam bentuk kemasan. Mulai kemasan plastik hingga kemasan toples. Kemudian dipasarkan ke warung-warung kopi yang ada di wilayah Tulungagung.
Ratno Saputro memulai usaha ini sejak 2018 hingga saat ini. Untuk mengembangkan usaha miliknya, dia mempunyai sebuah tim dan sudah banyak yang bergabung. Seperti halnya usaha-usaha yang lain, usaha Ratno juga bertujuan untuk mendapatkan keuntungan atau menambah nilai ekonomi. Selain itu, juga sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Kegiatan ini dijalankan di Desa Mangunsari, tepatnya di Jalan KH Ahmad Dahlan No 98.
Ratno Saputro berjuang dan konsisten menekuni usaha pengolahan kopi yang hingga saat ini masih terus berjalan. Sebab, melalui usaha pengolahan kopi ini, Ratno bisa mendapatkan penghasilan. Apalagi di era saat ini, melihat peluang banyaknya warung kopi dan penikmat kopi di Tulungagung, menjadi motivasi tersendiri. Akhirnya, dia membidik usaha kopi bubuk yang dibutuhkan oleh warung kopi dan penikmat kopi di Tulungagung. "Intinya harus berani mengambil kesempatan atau peluang yang menghasilkan," ungkap Ratno.
Kini, Ratno berusaha membuka jejaring dan relasi sebanyaknya-banyaknya. Produk miliknya sudah bersertifikat halal dan ber-PIRT, yang didapat dari bantuan lembaga INBIS Universitas Tulungagung. Hal itu mempermudah Ratno untuk memasarkannya. "Dalam proses pemasarannya, kami lakukan sendiri dengan menawarkan pada pemilik usaha warung kopi secara langsung," jelas pria 40 tahun ini.
Harapannya, usaha pengolahan kopi ini bisa berkembang pesat dan memberikan nilai tambah ekonomi, serta mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar. Selain itu, usaha pengolahan kopi ini juga bisa menginspirasi lingkungan. (fad/c1/ynu/rka) Editor : Nurul Hidayah