Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Peringati Hardiknas dan Harkitnas, ForSabda Tulungagung Gelar Sarasehan

Dharaka Russiandi Perdana • Senin, 22 Mei 2023 | 03:40 WIB
Photo
Photo
TULUNGAGUNG - Indonesia pernah mengalami fase terhina pada 1885 karena kejatuhan kerajaan-kerajaan di Nusantara saat itu lalu mengalami fase terhormat pada 1945 (17 Agustus 1945) bertepatan proklamasi kemerdekaan RI. Tetapi sayangnya keadaan bangsa Indonesia selanjutnya mengalami fase terhina lagi pada 2005 karena dinyatakan sebagai negara paling terkorup di dunia. Seiring perkembangan zaman perlahan-lahan mengalami kebangkitan sedikit demi sedikit hingga tahun 2023 sekarang ini sudah berada di atas fase normal. “Kita optimistis bahwa negara kita akan mengalami fase terhormat lagi pada 2065,” ujar Laksma (purn) Hadi Santoso mengenai siklus 60 tahunan tentang jatuh bangunnya citra Bangsa Indonesia dalam sarasehan budaya bersama ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) di Lotu’s Garden Ketanon Kedungwaru, pada Sabtu malam (20/5).

Sarasehan budaya ForSabda di Lotu’s Garden yang dihadiri sekitar seratusan orang itu dibuka Laksda (Purn) Harry Yuwono. Dia menjelaskan tentang pentingnya pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu dilanjutkan Sekapur sirih oleh Ki Lamidi, sesepuh Veteran Tulungagung yang mengilustrasikan keberadaan manusia yang bersifat lahiriyah dan batiniyah seperti hp atau kendaraan bermotor yang ada hard ware maupun shof ware-nya.

Sarasehan dalam memperingati Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) dan Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) dengan tema Kebangkitan Pendidikan & Pendidikan yang Membangkitkan yang dipandu moderator Elis Yusniyawati (dosen UIN SATU Tulungagung) itu, selain Laksma (Purn) Hadi Santoso, tampil sebagai narasumber antara lain Bambang Agus Susetyo (AS), mantan Kepala LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Timur, Agung Pinastiko (guru SMAN 1 Kedungwwaru) dan Ki Wawan Susetya (budayawan). Dalam sarasehan budaya tersebut juga disemarakkan dengan karawitan Cahyo Yuwono dari Lotu’s Garden dan Ngesthi Laras pimpinan Ki Handaka dari Tanggung Glotan.

Lebih jauh, Laksma (Purn) Hadi Santoso yang membahas Mengeksplore Nilai Jejak Kebangkitan Nasional Budi Utomo 20 Mei 1908 itu juga menjelaskan mengenai adanya pergeseran paradigma mengenai seputar pendidikan dari lokal ke nasional dan dari regional ke internasional yang kemudian menuju pendidikan yang arahnya multinasional, global dan universal. “Substansi pendidikan bangsa Indonesia itu sebenarnya bersifat ke dalam, dimulai dari Nuruti, Nalar, Naluri, Nurani, dan Nur (N5) yang semuanya menggunakan huruf N,” jelasnya.

Bambang AS pun tidak ketinggalan mengeluarkan pendapat. Dia pun membahas kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar yang dijalankan Mendikbud Nadhiem Makarim yang secara keseluruhan meliputi 24 episode. Dia menyebutkan episode 1 Assemen Nasional, USBNI, RPP & PPDB, episode 2 Kampus Merdeka, episode 3 Penyaluran dan penggunaan dana BOS, dan seterusnya hingga episode 24. Semua itu menjadi perhatian dalam dunia pendidikan hingga bisa tewujudnya pendidikan yang lebih baik.“Cakupannya sangat luas, bahkan ada penganggaran dalam bidang kebudayaan juga, yaitu Merdeka Berbudaya dengan dana Indonesia termasuk Revitalisasi Bahasa Daerah,” tuturnya.

Bambang sempat menyinggung pula mengenai semboyan pendidikan Tutwuri Handayani yang tidak utuh dan diambil dari Sistem Among Ki Hadjar Dewantara yakni Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan Tutwuri handayani.

“Ketika Pak Muhadjir Effendy menjabat sebagai Mendikbud, sebenarnya hal itu pernah menjadi pembahasan pula. Mau dipakai utuh dari semboyan pendidikan itu, tetapi nanti jangan-jangan dianggap kurang etis dari pejabat yang menetapkan sebelumnya. Ya, akhirnya dibiarkan sampai sekarang,” terangnya.

Agung Pinastiko, guru SMAN 1 Kedungwaru lebih banyak membahas mengenai pengalaman menjalankan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolahnya. Menurut dia, Kurikulum Merdeka Belajar membuat para guru diberi kebebasan berekspresi yang merdeka pula dalam memberikan tugas kepada para siswa (peserta belajar) untuk meningkatkan kreativitas para siswa. “Contohnya saya sendiri. Selaku guru sejarah, saya biasa mengajak para siswa berkunjung ke Candi Mirigambar dengan mengamati dan menganalisis dengan berbagai perspektif,” tuturnya.(*/rka) Editor : Dharaka Russiandi Perdana
#lotu's garden #forsabda tulungagung #forsabda #sarasehan budaya