“Setelah peristiwa kericuhan itu, aktivitas kantor desa masih bisa melayani masyarakat seperti biasa. Bahkan semakin padat, karena ada monitoring dan evaluasi (monev),” terangnya.
Disinggung terkait rumah warga yang terdampak kericuhan oknum silat, Subakri menjawab ada 14 rumah warganya yang terkena lemparan batu. Akibatnya, kaca, genting, hingga pagar rusak usai peristiwa malam Jumat kelabu. Lalu, keesokan paginya warga langsung bergotong-royong untuk memperbaiki rumahnya, hanya ada satu atau dua yang belum diperbaiki.
-
Photo
Bahkan terlihat warga Desa Sambitan sudah beraktivitas seperti biasa, tanpa ada yang terlihat memperbaiki rumahnya. Meskipun menurut Subakri tentu menimbulkan trauma yang mendalam bagi warga dan Pemdes Sambitan. Namun dia memastikan tidak ada warganya yang terlibat menjadi pelaku kericuhan tersebut.
“Kami menyerahkan semua penanganan kasus hukum terkait kerusakan ini ke Polres Tulungagung. Ketika kejadian, kami juga meminta petugas polres untuk melakukan penjagaan hingga mendatangkan Brimob dari Kediri,” ungkapnya.
Subakri menceritakan, ditelepon oleh perangkat desa yang lain terkait kerusuhan di kantor Desa Sambitan. Dia menghitung ada dua kali kerusuhan, ketika pukul 23.00 WIB ribuan oknum silat ke kantor desa untuk saling lempar batu. Setalah itu, pukul 01.00 WIB ada masa lagi yang datang dan dari cerita warga terdapat pemuda yang membawa sajam.
Dia dan warga tidak berani mendekat massa yang rusuh itu, karena jumlahnya yang ribuan. Bahkan, menurut dia, bila Wakapolsek Pakel tidak bisa berjalan beberapa hari. Lantaran terkena lemparan batu dari dampak kericuhan tersebut. “Saya besok (hari ini, Red) akan diminta keterangan di Polres Tulungagung terkait kerusuhan di kantor desa. Polisi ingin mengetahui kejadian dan kerusakan yang dialami Pemdes Sambitan,” pungkasnya. (jar/din/rka) Editor : Aburizal Sulthon Hakim