Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung, Dedi Eka Purnama mengatakan, fenomena menumpuknya sampah di tempat wisata Pantai Gemah bukan kali pertama ini terjadi. Sampah-sampah tersebut merupakan sampah yang hanyut dari bantaran sungai di wilayah sekitar pantai. “Bukan kali pertama. Itu kan sampah-sampah hanyut oleh aliran sungai di sekitaran pantai,” jelasnya, kemarin (21/5).
Lanjut dia, sampah menumpuk di Pantai Gemah terdiri dari dua jenis. Yakni, sampah plastik yang disinyalir berasal dari pengunjung pantai dan sampah ranting yang hanyut oleh aliran sungai. Seluruh pihak telah berupaya secara optimal untuk menanggulangi tumpukan sampah tersebut. “Tetapi tetap saja sampah itu ada,” ucapnya.
Adanya pergantian musim dengan intensitas hujan tinggi juga membawa sampah ranting ke hilir. Sampah-sampah tersebut berasal dari beragam wilayah seperti wilayah Trenggalek dan Blitar. “Apalagi kalau pas musim hujan, sampahnya semakin banyak. Karena aliran sungai semakin kuat, jadi sampah yang hanyut semakin banyak,” paparnya.
Langkah efektif untuk menanggulangi sampah di tempat wisata tersebut yaitu dengan memulai kesadaran dalam kebiasaan membuang sampah pada diri sendiri. Kebiasaan buruk dalam membuang sampah bukan pada tempatnya masih kerap dilakukan masyarakat. “Mulai dibiasakan kesadaran membuang sampah pada diri sendiri dulu. Kebiasaan itu sedikit banyak akan menular ke orang sekitar,” ungkapnya.
Diketahui, tumpukan sampah tampak menyelimuti bibir Pantai Gemah pada Minggu (14/5) lalu. Sampah-sampah itu terdiri dari sampah ranting dan sampah plastik. Tak ayal tumpukan sampah tersebut membuat pengunjung Pantai Gemah tidak nyaman. (ziz/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah