Jika tidak bisa mengurangi sampah, minimal bisa mengolahnya. Kalimat itulah yang kali pertama keluar dari Suwignyo ketika ditanya perihal sampah. Pria berkacamata tersebut terhitung sudah 10 tahun menekuni bidang pengolahan sampah, utamanya sampah yang dihasilkan dari rumah tangga. “Kalau bukan kita yang memulainya, siapa lagi? Intinya harus dimulai dari diri sendiri, baru kita sosialisasikan ke masyarakat,” jelasnya, kemarin (24/5).
Sampah-sampah dari hasil aktivitas rumah tangga dipilah satu per satu berdasarkan jenis sampah. Mulai dari sampah yang dapat membusuk hingga sampah-sampah plastik dipisahkan menjadi beberapa kantong keresek. “Sebelum membuang sampah itu harus kita pilah. Mana sampah yang dapat membusuk dan mudah terurai dipisah dengan sampah yang susah terurai,” ucapnya.
Alhasil, dengan memilah jenis sampah tersebut, pria berusia 56 tahun ini dapat memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi sesuatu hal yang menguntungkan. Sampah-sampah organik dari hasil rumah tangga diolah menjadi bahan utama dalam budi daya maggot lalat black soldier fly (BSF). “Sampah-sampah organik itu kita jadikan bahan makanan pada budi daya maggot,” paparnya.
Teknologi biokonversi menggunakan maggot lalat BSF dapat dimanfaatkan untuk mengonversi materi dari sampah organik sehingga memiliki potensi ekonomi. Bahkan, maggot BSF mampu mendegradasi sampah organik dengan rentang waktu lebih cepat dibanding serangga lainnya. “Selama 24 jam maggot itu makan terus dan penguraian sampah organik dari rumah tangga itu menjadi lebih cepat,” ungkapnya.
Hasil budi daya maggot lalat BSF dimanfaatkannya menjadi campuran pakan ternak dan sisanya dijual. Maggot dari lalat BSF ini memiliki protein yang tinggi sehingga sangat membantu dalam perkembangan ternak. “Maggot ini proteinnya tinggi sekali. Saya kasih ke ayam dan lele itu jadi cepat gemuk. Kalau dijual sekitar Rp 6 ribu per satu kilogram,” tutupnya. (ziz/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah