Salah satu guru di jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Kedungwaru, berinisial RG mengatakan, saat ini tidak sedikit pelajar telah terkontaminasi zat adiktif yang terkandung dalam rokok. Berdasarkan pengamatannya, banyak pelajar yang sudah merokok di jenjang pendidikan SMP tersebut.
“Kalau jumlah pastinya saya belum pernah menghitung, tapi kalau puluhan siswa saja lebih,” jelasnya, kemarin (31/5).
Perilaku kurang elok yang dilakukan pelajar tersebut menjadi PR bagi seluruh aspek. Baik itu lembaga pendidikan, keluarga, ma syarakat atau lingkungan, dan instansi pemerintahan.
“PR kita semua. Jadi, bukan hanya lembaga pendidikannya, melainkan juga keluarga, lingkungan masyarakat, dan kolaborasi dengan pemerintahan,” ucapnya.
Sebenarnya cukup ironis melihat pelajar berusia belasan tahun harus berkutat dengan bahaya rokok. Dengan merokok, pelajar justru lebih mudah untuk terjerat ke dunia lebih gelap. Termasuk minuman keras dan narkoba. “Dari rokok itu nanti mereka mengenal barang-barang haram lainnya. Contohnya, minum-munuman beralkohol dan narkoba. Dengan merokok, mereka justru tertantang untuk mencoba hal lainnya,” tutupnya.
Sementara itu, orang tua dari salah satu anak yang merokok, Nur Ali, mengungkapkan bahwasanya dia tidak menyetujui jika anak laki-lakinya merokok. Namun, segala upaya untuk mencegah kebiasaan buruk tersebut telah dilakukan dengan hasil nihil. “Saya juga sudah melarang, tapi anaknya itu kalau dilarang malah semakin menjadi. Kalau sudah dewasa dan sudah bisa cari uang sendiri gitu, saya perbolehkan,” jelasnya.
Tak hanya itu, upaya untuk mencegah si buah hati merokok pun kandas ketika anaknya berargumen bahwa kebiasaan merokok dicontoh dari ayahnya. Ketika mendengar argumen dari anaknya tersebut, dia hanya pasrah akan keadaan ke depannya. “Kalau memang seperti itu ya sudah, terpenting kalau tidak punya uang buat merokok jangan minta ke saya. Apalagi mencuri,” pungkasnya.(ziz/c1/din/rka) Editor : Dharaka Russiandi Perdana