Sekretaris DPKP Tulungagung Gatot Sunu Utomo mengatakan, ada 277 kasus evakuasi tawon vespa di rumah masyarakat. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu, yakni 229 kasus selama 2022. Kasus ini bisa lebih tinggi lagi, mengingat kini masih di pertengahan tahun.
“Fenomena kasus sarang tawon pada tahun ini luar biasa karena melebihi jumlah kasus selama 2022. Rata-rata menempel di rumah, di bawah atap, ada juga beberapa di pohon. Ada juga yang bersarang di dalam kotak speaker. Itu kondisi berbahaya,” ujar Gatot.
Terbaru bersarang di dalam batang pohon jambu beberapa waktu lalu. Petugas membasmi dengan kain yang diolesi bensin, lalu dibakar di dalam batang pohon tersebut. Setelah itu, tawonnya bisa mati dengan semua lubang di pohon muncul asap. Pohon itu membahayakan karena dekat dengan sekolah PAUD di Kecamatan Karangrejo.
Gatot mengungkapkan, 90 persen sarang tawon menempel di perumahan dan tempat yang usang. Jika sarangnya masih kecil direkomendasikan untuk dibakar saja, setelah itu tawonnya pergi atau mati. Namun jika kondisi sarangnya besar di lokasi yang sulit dan membahayakan, maka lebih baik memanggil petugas damkar.
“Ada yang pernah memanggil pawang tawon, tapi tidak bisa ketika melihat besarnya sarang sehingga memanggil damkar,” terangnya.
Sementara itu, kendala tergantung lokasi evakuasi tawon vespa. Maka, pada setiap laporan masyarakat yang masuk diwajibkan mengirim foto untuk mengetahui kondisi sarang tawon. Setelah itu, didiskusikan dengan tim perihal penanganan dan alat yang disiapkan untuk metode evakuasi sarang tawon tersebut.
Tidak jarang mereka perlu naik ke atap rumah, genting, hingga pohon, dan ada 5 petugas damkar yang sudah disengat. Lukanya timbul bengkak-bengkak di kulit dengan rasa sakit hingga nyeri. Tawon vespa ini memang berbahaya sehingga harusnya petugas damkar dilengkapi dengan asuransi, tetapi hingga kini belum ada.
Di sisi lain, evakuasi ular ada 38 kasus. Ini juga cukup banyak jika dibandingkan dengan tahun lalu. Lantaran pada 2022 hanya 29 kasus, maka tahun ini bisa bertambah hingga akhir tahun. Gatot mengungkapkan bahwa rata-rata ular ditemukan di permukiman, masuk rumah hingga kamar atau dapur, dan ada juga di kandang ayam.
“Pernah evakuasi ular masuk kandang ayam, hingga ular memakan 1 ekor ayam. Setelah itu, ularnya mati karena mulutnya ditutup ketika sedang menelan ayam. Hal itu dilakukan karena ular tersebut besar dan berbahaya. Namun, jika ular kecil dan tidak berbahaya, maka setelah dievakuasi akan dilepasliarkan. Biasanya di atas Srabah,” ungkapnya.
Akhir-akhir ini memang banyak laporan temuan ular yang dimungkinkan karena faktor cuaca panas dan berganti-ganti. Agar tidak didatangi ular, masyarakat diimbau untuk selalu membersihkan lingkungan rumahnya dan hindari tempat yang lembap.(jar/c1/din/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana