TULUNGAGUNG – Berbagai hal dibahas secara gayeng di pelataran Candi Gayatri di Desa/Kecamatan Boyolangu. Khususnya dari sejarawan, pegiat wisata, maupun budayawan.
Sementara itu Ki Agus Utomo, pegiat Wisata Gunung Budheg di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat memberikan apresiasi mengenai acara sarasehan budaya siang itu yang dilaksanakan komunitas Permata Gayatri pimpinan Renny Dyah. Ia berharap acara seperti itu bisa ditindaklanjuti, bahkan ia berencana akan menggandeng komunitas Permata Gayatri dalam agenda kegiatan besar bertajuk Bhakti Nuswantara.
Kepala BPK Wil XI perwakilan Jawa Timur Endah Budi Heryani menyinggung mengenai situs Candi Dadi di puncak gunung di pegunungan Walikukun yang kondisinya memprihatinkan. Sayangnya sejauh ini belum ada anggaran untuk dilakukan perbaikan (renovasi). Namun agenda dekat yang hendak direnovasi yaitu Candi Gayatri di Boyolangu.
Setelah itu giliran budayawan Ki Wawan Susetya yang mengatakan bahwa gagasan semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu sebenarnya memang dari Prabu Kertanegara (Raja Singhasari terakhir) yang selanjutnya diteruskan oleh putrinya Ibu Ratu Gayatri di Kerajaan Majapahit. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang lengkapnya berbunyi Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa itu ketika di zaman Singhasari dimaksudkan untuk menyatukan antara Hindu dan Budha pada masa kepemimpinan Prabu Kertanegara
Pada kesempatan itu Ki Wawan Susetya juga mengingatkan bahwa sesungguhnya pada abad XIII itu bangsa Tartar atau Mongol sudah berencana hendak menjajah atau menguasai Nuswantara dengan mengirimkan Meng-Khi utusan Kaisar Kubilai-Khan, raja Mongol (Tartar) ke Singhasari. Maka marahlah Prabu Kertanegara hingga akhirnya memotong telinga si utusan Meng-Khi yang kemudian kembali ke Mongol.
Pada 1292, datanglah ribuan tentara Mongol (Tartar) yang hendak menggempur Singhasari. Lalu, Raden Wijaya (putra menantu Prabu Kertanegara atau suami Ratu Gayatri), para tentara Mongol diarahkan menggempur Kediri hingga Prabu Jayakatwang meninggal dunia. Setahun berikutnya, yaitu pada 1293, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit yang pusat ibukotanya di daerah Trowulan (Mojokerto).
“Maka kita harus mewaspadai bangsa Tartar atau Mongol yang pada abad XIII sudah merencanakan hendak menjajah Nuswantara, yakni di Kerajaan Singhasari. Maka jangan sampai hal itu terulang kembali di masa sekarang!” ujar Ki Wawan mengingatkan.
Selanjutnya Ki Wawan juga menjelaskan mengenai Cakrawala Mandhala Nusantara I atau cita-cita mempersatukan Nuswantara yang awalnya digagas oleh Prabu Kertanegara (Raja Singhasari) dengan melaksanakan Ekspedisi Pamalayudi Pulo Sumatra terutama menaklukkan kerajaan yang paling besar, yakni Kerajaan Dharmasraya di Palembang.
Setelah itu dilanjutkan Cakrawala Mandhala Nuswantara II yang dilakukan Ratu Gayatri, istri Raden Wijaya (Raja Majapahit) yang dilakukan oleh putrinya Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan cucunya Prabu Hayam Wuruk yang kemudian menjadikan masa keemasan atau kejayaan Majapahit yang puncaknya pada tahun 1350.
Dan Cakrawala Mandhala Nuswantara III atau cita-cita mempersatukan Nuswantara yang ketika yaitu ketika NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Sebelum proklamasi kemerdekaan tahun 1945, terlebih dahulu lahirlah organisasi pergerakan kemerdekaan, seperti Budi Utomo 20 Mei 1908, PNI, Indische Party, Taman Siswa, Syarekat Dagang Islam atau Syarekat Islam, ormas Muhammadiyah, ormas Nahdlatul Ulama, dan sebagainya. Lalu dilanjutkan lagi tonggak sejarah berikutnya yaitu peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 hingga terwujudnya kemerdekaan NKRI pada 17 Agustus 1945. (*/rka)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana