Padahal, hujan sudah tidak terjadi di Tulungagung hampir sebulan terakhir. Namun, adanya mendung membuat waspada terjadinya cuaca ekstrem. Bahkan, beberapa pengendara di jalan raya ada yang terlihat memakai jas hujan untuk berjaga-jaga.
Prakirawan BMKG Juanda, Shanas Septy Prayuda mengatakan, sepekan ke depan diprediksi ada pertumbuhan awan-awan berpotensi hujan. Analisisnya, ada gelombang atmosfer Equator Rossby melintasi Jawa Timur (Jatim) hingga hari ini, yaitu di sebagian besar wilayah selatan Jatim yang berpotensi hujan. “Kondisi pekan ini sangat berbeda dengan pekan lalu yang didominasi berawan hingga cerah. Aktifnya gelombang atmosfer Equator Rossby ini menyebabkan peningkatan curah hujan dari sedang hingga lebat,” ujar Shanas.
Menurutnya, di Tulungagung akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada Kamis (8/6). Kecamatan Pagerwojo dan Sendang berpotensi mengalami hujan serta angin sesaat pada sore hari. Meskipun Rabu hari terakhir atmosfer Rossby melewati Jatim, ternyata masih ada sisa-sisa udara yang kaya uap air. Apalagi didukung dengan faktor lokal, seperti angin gunung-lembah atau angin laut-darat.
Namun, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian timur didominasi nila anomali positif. Lantaran fase El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih dalam kategori netral, kondisi ini tidak signifikan terhadap penambahan massa uap air dari Samudra Pasifik ke wilayah Jatim. Kondisi data angin pada lapisan 3.000 ft terakhir pada 4 Juni pukul 19.00 WIB menunjukkan pola angin di wilayah Jatim secara umum dari arah timur ke selatan dan cenderung konstan. “Dari analisis itu, tidak ada potensi gangguan siklonik yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan-awan hujan. Tulungagung masih aman, tapi harus waspada,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Tulungagung Robinson Nadeak mengatakan, memasuki musim kemarau tahun ini, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih waspada dengan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lantaran pada musim kemarau, potensi karhutla bisa meningkat karena kondisi tanaman yang kering, ditambah hembusan angin yang biasanya akan lebih kencang.
Selain itu, faktor yang tak kalah penting sering menyebabkan karhutla yakni human error, seperti halnya membakar sampah atau membakar daun kering di lahan pertanian. Maka, pihaknya berharap masyarakat tidak lagi menganggap sepele kejadian hal tersebut.
“Selain kebakaran hutan dan lahan, bencana kekeringan juga harus diwaspadai ketika masuk musim kemarau,” pungkasnya.(jar/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah