Selain itu, pendidikan juga menjadi fondasi penting dalam menangkal pemikiran terlarang ini. “Telah mengetahui kabar penangkapan ES yang akhir pekan lalu ditangkap Densus 88,” terang Kapolres Tulungagung AKBP Eko Hartanto kemarin (8/6).
Tim Densus 88 sempat diminta izin ke Polres Tulungagung terkait dengan penangkapan tersebut. Pihak polres langsung mempersilakan petugas untuk menanganinya. “Kami akan mengoptimalkan pelaksanaan pembinaan dan penyuluhan dari tiga pilar kepada masyarakat. Apalagi, kami juga baru saja me-launching Polisi RW dengan 685 personel yang menjangkau sudut desa di Tulungagung,” ujarnya.
Dia melanjutkan, Polisi RW dibentuk untuk membangun komunikasi dengan masyarakat secara intens sehingga gejolak dan potensi masalah di masyarakat bisa diminimalkan, termasuk menangkal isu radikalisme. Selain itu juga mendukung pemeliharaan, keamanan, dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas), yang hingga sekarang rawan adanya gangguan di Tulungagung.
Dia merinci, ada beberapa tugas utama Polisi RW, di antaranya bermitra dengan masyarakat dalam mendeteksi masalah kamtibmas hingga menemukan solusi. Selanjutnya, bersama masyarakat mengatasi masalah sosial dengan tindakan preemtif dan preventif. Bahkan, mendukung fungsi kepolisian lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sehingga tercipta kemanaan dan ketertiban di masyarakat. “Tentu adanya Polisi RW tidak menghapus fungsi dari bhabinkamtibmas dan siskamling dalam menangkal radikalisme dan terorisme. Mereka saling mendukung untuk memberikan pembinaan dan penyuluhan (binluh) ke masyarakat,” terangnya.
Sementara itu, di bidang pendidikan, Polres Tulungagung menangkal radikalisme melalui police goes to school rutin ke sekolah dan pesantren. Hal itu karena pencegahan bahaya paham radikalisme dan terorisme harus dilakukan sejak dini. Apalagi, anak muda sejatinya adalah generasi penerus dalam menjaga keutuhan dalam berbangsa dan bernegara.
Menurut dia, anak-anak dan remaja adalah kelompok yang rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme lantaran pemikiran mereka masih labil. Maka, para pelajar didorong untuk memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, serta diajak untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar ideologi negara. “Namun untuk internal polres, kami juga melakukan langkah guna menangkal radikalisme. Yakni dengan banyak memberikan bimbingan rohani dan mental kepada anggota Polri dan keluarganya. Terpenting bagi masyarakat, bangun kepekaan serta tumbuhkan toleransi beragama,” pungkasnya. (jar/c1/din/rka) Editor : Nurul Hidayah