Salah seorang pionir yang membawa tren nail art ke Tulungagung adalah Yeni Lesthary. Warga Desa Pucungkidul, Kecamatan Boyolangu, itu mulai menjalankan bisnis di bidang seni tersebut sejak tahun 2022 lalu.
“Setahun berselang, permintaan semakin banyak. Apalagi pada momen-momen tertentu, nail art seakan menjadi hal wajib,” jelas Lestha, sapaan akrab Yeni Lesthary.
Saat ini, perempuan 26 tahun itu sudah memiliki dua cabang di Tulungagung. “Contohnya menjelang Lebaran kemarin, permintaan nail art sangat banyak. Satu cabang bisa buka sampai subuh saat bulan puasa kemarin,” tandasnya. “Dulu pertama buka di tahun 2022 tidak seramai sekarang, tahun ini nail art memang sedang viral,” sambung Lestha.
Dia juga merasa heran dengan para pelanggannya yang rela antre berjam-jam untuk mempercantik kuku. Diibaratkan saat momen Lebaran kemarin, konsumenlah yang mencari nail art, bukan nail art yang mencari konsumen. Itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bisnis nail art kepada pelanggan baru dengan kualitas yang tetap diperhatikan di kedua cabang yang dimilikinya. Dia melanjutkan, saking ramainya bisnis tersebut, total 8 orang karyawan yang dimiliki dirasa masih belum cukup melayani semua permintaan. Karena dalam momen tertentu, satu hari bisa ada 80 lebih customer datang untuk mempercantik kuku.
Kemudian pada hari biasa, 20 sampai 30 orang customer sudah menjadi angka pasti dengan mayoritas adalah dari kaum hawa. Dengan perkembangannya yang sangat pesat, kini juga bermunculan jasa-jasa nail art lain di Tulungagung. Maka, salah satu strategi yang dilakukan adalah menekan harga lebih rendah di antara pelaku usaha nail art lainnya, dengan alasan banyak karyawan yang dimilikinya.
“Kalau di saya, dengan Rp 50 ribu, para customer sudah bisa memlilih semua motif dengan kualitas yang tetap baik. Sedangkan di luar sana, beda motif beda harga. Bisa Rp 100 ribu, bahkan ada Rp 300 ribu,” katanya. Menelisik sebelumnya, dia memulai usaha nail art dengan maksud untuk coba-coba. Dia iseng menawarkan jasa tersebut kepada temantemannya, tetapi malah berlanjut hingga memiliki dua cabang di Tulungagung.
“Kalau mengerti tentang nail art ini sebenarnya sudah lama. Karena sejak dulu sudah menggunakannya secara pribadi. Saat itu, saya juga melihat bisnis nail art di Tulungagung masih jarang sehingga iseng untuk mencobanya,” katanya. Bahkan, dia sebelumnya tidak merasa memiliki jiwa seni untuk melukis, apalagi pada media kuku.
Namun, karena dia bertekad untuk belajar, semua tantangan yang dihadapi bisa dilalui hingga sekarang. “Dengan media kuku, kita bisa menggambar apa saja. Mulai dari gambar buah, hewan, dan karakter-karakter tertentu sesuai dengan keinginan customer,” tutupnya.(*/c1/din) Editor : Nurul Hidayah