RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tulungagung merupakan salah satu kota terbesar di Jawa Timur. Kota ini memiliki banyak julukan dari yang istimewa hingga ikonik. Sebut saja julukannya yang beranekaragam, seperti Kota Marmer, Bumi Lawadan, hingga Kota Cethe.
Disebut sebagai Kota Marmer, karena Tulungagung merupakan penghasil marmer terbesar di Indonesia, bahkan kualitas marmer di Tulungagung digadang-gadang memiliki kualitas yang bagus. Sedangkan Tulungagung dijuluki dengan Bumi Lawadan karena diambil dari salah satu prasasti yang menjadi cikal bakal Kota Tulungagung, yaitu Prasasti Lawadan. Nah, apa yang membuat Tulungagung juga dinamakan sebagai Kota Cethe? Ternyata ini alasannya.
Kata ‘cethe’ merupakan serapan dari bahasa jawa, yang berarti ampas kopi. Istilah Cethe sangat populer di Jawa Timur, khususnya di Tulungagung. Cethe atau Nyethe adalah kegiatan mengoleskan endapan kopi atau ampas kopi ke rokok. Disamping itu, Tulungagung juga terkenal dengan kota warung kopi cethe karena saking banyaknya warung yang menyediakan menu kopi cethe.
Sejarah Nyethe bermula dari para petani saat sudah selesai bekerja dari sawah. Kebiasaan mereka mampir ke warung cethe/kopi dan mengobrol dengan sesama para petani. Kebetulan, karena sektor pertanian di Tulungagung melimpah juga mempengaruhi kondisi aktivitas mata pencaharian mereka.
Umumnya, Kopi cethe hanya memakai bubuk kopi yang halus dan mereka tinggal merekatkannya ke rokok batangan. Sebelum itu, kopi dihidangkan bersama aneka gorengan untuk melepas dahaga. Sembari menyeruput kopi, beberapa dari mereka saling mengobrol sehingga mereka merasakan kenikmatan meminum kopi sambil melihat pemandangan sawah yang indah.
Untuk merekatkannya ke rokok sangat mudah. Cukup dengan olesi dengan sendok atau bisa juga ditambah dengan susu cair. Motif-motif dari hiasan cethe juga sangat beragam mulai dari tulisan, tribal, hingga pewayangan. Oleh karena itu, kopi cethe juga disebut juga dengan Batik rokok. Selain itu, bentuk-bentuknya juga tergantung dari si pembuat.
Tulungagung sendiri sudah memiliki banyak warung kopi yang tersebar hampir di seluruh daerah hingga ke pelosok. Tradisi nyethe sendiri sudah ada sejak dahulu. Entah dari siapa yang mencetuskan tradisi ini, Tetapi hal ini sangat bermanfaat pagi orang-orang yang menyukai seni dan penyuka kopi. Karena tradisi nyethe sangat populer, bahkan pernah dilombakan di tingkat kabupaten.
Nah, tertarik untuk mencoba?
Editor : Nurul Hidayah