Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejak 2008 Jadi Guru Honorer Digaji Rp 300 Ribu, Khozinatul Asrori Putar Otak Menyambi Beternak dan Bertani

Mukhamad Zainul Fikri • Jumat, 28 Juli 2023 | 22:05 WIB
PENGABDIAN:  Khozinatul Asrori  memamerkan SK  pengangkatan PPPK  miliknya
PENGABDIAN: Khozinatul Asrori memamerkan SK pengangkatan PPPK miliknya

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - 15 tahun sudah Khozinatul Asrori menjadi guru honorer bergaji Rp 300 Ribu per bulan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, pria asal Desa Pakisaji, Kecamatan Kalidawir ini harus bekerja sambilan. Namun, kini dia bisa tersenyum karena diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). 

Memori Khozinatul Asrori melayang pada 2008 silam. Saat itu, dia memutuskan untuk mengajar di SDN 2 Pakisaji, Kecamatan Kalidawir. Mengingat, sekolah tersebut membutuhkan guru dengan dasar pendidikan yang relevan. Kebetulan waktu itu dia baru menyelesaikan kuliah D-3 jurusan pendidikan jasmani.

“Ketika itu sekolah membutuhkan guru olahraga dan saya masuk untuk mengajar mata pelajaran olahraga. Kan waktu itu tiap-tiap sekolah membutuhkan seorang guru olahraga yang memiliki ijazah olahraga,” jelas Asrori, sapaan akrabnya.

Dia mengungkapkan bahwa menjadi guru honorer selama belasan tahun bukan sebuah perkara yang mudah. Apalagi, dia juga seorang kepala rumah tangga yang diwajibkan untuk memberikan penghidupan bagi istri dan kedua anaknya yang masih bersekolah.

Pada lima tahun pertama menjadi guru honorer, Asrori menyebut gaji yang didapatkannya selama sebulan adalah Rp 100 ribu. Setelah lima tahun pertama dilalui, gaji yang dia terima mulai naik menjadi Rp 300 ribu. Pun sampai 15 tahun pengabdiannya, gaji yang diterima masih tetap Rp 300 ribu tiap bulannya. “Jadi guru honorer itu sangat berat, utamanya dalam sisi ekonomi. Terakhir, gaji yang saya dapatkan dari sekolah masih Rp 300 ribu,” ungkapnya.

Kondisi itu pun membuatnya memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Apalagi dengan gaji Rp 300 ribu setiap bulannya tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahasanya untuk membeli bensin demi berangkat mengajar pun jumlahnya masih kurang. “Anak saya dua. Yang pertama masih kuliah semester tiga, dan satunya masih kelas 1 sekolah dasar,” ungkapnya.

Tak kehilangan akal. Pria 51 tahun itu memanfaatkan lahan pekarangan untuk beternak ikan. Hasilnya lumayan untuk membuat dapur keluarga tetap ngebul. Selain itu, dia juga tidak malu untuk bertani menggarap sawah di sekitar rumahnya di Desa Pakisaji. “Selain menjadi guru, pekerjaan lain ya beternak ikan dan bertani,” tuturnya.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan selama 15 tahun menjadi guru honorer, pada Kamis (27/7) kemarin, Asrori secara resmi diangkat sebagai PPPK dengan penempatan tetap di SDN 2 Pakisaji. Asrori pun girang bukan kepalang dengan capaiannya sendiri. Pengangkatan itu menjadi hal yang ditunggu-tunggu. “Sangat senang sekali. Seperti halnya satu tahun tidak ada hujan sama sekali, lalu ada hujan selama satu hari,” ungkapnya.

Asrori dikontrak selama dua tahun menjadi PPPK oleh Pemkab Tulungagung. Besar harapannya surat keputusan (SK) yang dikeluarkan bisa terus diperpanjang sampai usia pensiun seorang guru. Jika saat pengangkatan usianya adalah 51 tahun, artinya masih ada 9 tahun lagi baginya untuk merasakan manis dan bangganya bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN). “Inginnya terus diperpanjang hingga usia pensiun,” ujarnya sambil tersenyum.

Sebelumnya, Asrori mengikuti seleksi untuk menjadi PPPK pada tahun 2021. Pada serangkaian tes yang diikuti, dia selalu lulus dengan nilai cukup tinggi. Namun, pada tahun itu formasi PPPK untuk guru olahraga di Tulungagung masih belum dibuka. Dengan begitu, pada pengangkatan 2022 dia baru bisa diangkat sebagai PPPK. “Kalau saya dengan gaji PPPK yang diterima sekitar Rp 3 juta, belum termasuk tunjangan. Mungkin setelah ini akan mengadakan syukuran di rumah dan di lembaga saya mengajar atas pengangkatan ini,” tutupnya.(*/c1/rka)

Editor : Nanda Nila Alvinda
#guru hononer #beternak #gaji #Bertani #guru