RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pusaka tombak Kanjeng Kyai Upas memiliki asal usul sejarah yang kaya akan makna kehidupan. Selain diyakini masyarakat Tulungagung sebagai peninggalan para leluhur yang bisa menghindarkan dari musim pagebluk dan marabahaya, hingga kini juga menjadi pusaka andalan bupati yang menjabat di Kabupaten Tulungagung
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Suprihatin mengatakan, pada masa Kerajaan Majapahit, banyak keturunan darah biru yang menjalankan titah dari sang raja. Salah satunya seorang bangsawan bernama Ki Wonoboyo, seorang yang dikenal babat Rawa Pening Ambarawa atau Ambahrawa yang masih daerah Mataram. “Jadi, pada masa kekerajaan Majapahit itu banyak keturunan bangsawan, salah satunya Ki Wonoboyo yang dikenal sebagai babat Rawa Pening Ambarawa,” jelasnya kemarin (31/7).
Suatu ketika Ki Wonoboyo sedang mengadakan acara bersih desa sehingga banyak pemuda yang turut membantu acara bersih desa tersebut. Lalu, salah satu juru masak yang datang ke kediaman Ki Wonoboyo meminjam pisau untuk keperluan memasak. Namun, Ki Wonoboyo keberatan untuk meminjamkan pisau kepada seorang gadis juru masak tadi. “Tapi akhirnya Ki Wonoboyo meminjamkan pisau kepada gadis itu dengan pantangan jangan dipangku di atas paha,” ucapnya.
Singkat cerita, gadis juru masak tersebut teledor dan menaruh pisau yang dipinjamnya di atas pangkuan paha. Lantas pisau yang dipinjamnya dari Ki Wonoboyo hilang seketika. Kejadian itulah yang membuat seorang gadis juru masak tersebut hamil. “Ya mungkin ditinggal ngobrol gitu sehingga gadis juru masak teledor menaruh pisau itu di atas paha. Seketika pisaunya menghilang dan membuat gadis juru masak tadi hamil,” paparnya.
Mengetahui hal tersebut, Ki Wonoboyo melakukan berbagai lelampahan atau perjalanan spiritual. Lalu, Ki Wonoboyo melakukan tapa mesu brata di puncak Gunung Merapi. “Karena kecerobohan gadis juru masak itu membuat Ki Wonoboyo melakukan berbagai lelampahan berujung bertapa mesu brata di puncak Gunung Merapi,” ungkapnya.
Setelah melalui masa kehamilan, gadis tersebut akhirnya melahirkan. Namun yang dilahirkan oleh gadis itu bukan seorang bayi manusia, melainkan berwujud Naga Taksaka. “Setelah hamil itu, dia melahirkan. Bukan melahirkan seorang bayi, melainkan berwujud Naga Taksaka sehingga dinamai Baru Klinthing,” jelasnya.
Ketika dewasa, Baru Klinthing mendatangi Ki Wonoboyo yang sedang bertapa di puncak Gunung Merapi. Namun, Ki Wonoboyo ini mau mengakui Baru Klinthing sebagai anak ketika ia bisa melingkari Gunung Merapi. Kemudian, Baru Klinthing mencoba untuk melingkari Gunung Merapi dengan wujud naganya. “Tapi ketika mencoba melingkari Gunung Merapi itu hanya kurang satu jengkal dan disambungnya dengan lidah,” ucapnya.
Upaya Baru Klinthing melingkari Gunung Merapi dengan sambungan lidahnya itu diketahui oleh Ki Wonoboyo. Lantas, Ki Wonoboyo memotong lidah Baru Klinthing dan jadilah pusaka tombak. Kemudian, tubuh berwujud naga Baru Klinthing ini pun seketika berubah menyerupai kayu. “Usaha Baru Klinting melingkari Gunung Merapi dengan ditambah lidahnya itu dilihat oleh Ki Wonoboyo. Akhirnya, Ki Wonoboyo memotong lidah Baru Klinthing, dan jadilah pusaka berbentuk tombak. Tubuh Baru Klinthing langsung berubah jadi kayu dan dijadikan tumpuan dari pusaka tombak itu, kemudian tombak itu diberi nama tombak Kanjeng Kyai Upas,” paparnya.
Singkat cerita, sepeninggalan Ki Wonoboyo, tombak Kanjeng Kyai Upas itu diturunkan kepada Ki Ajar Mangir. Lalu, ketika Ki Wonoboyo meninggal, Keraton Mataram terkena pagebluk Mayangkara. Karena itu, sang prabu pada masa kerajaan itu memberikan tombak Kanjeng Kyai Upas kepada putranya yang menjabat sebagai Adipati Ngrawa atau sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tulungagung. “Turun-temurun, pusaka tombak Kyai Upas ini menjadi pusaka andalan para bupati yang menjabat di Kabupaten Tulungagung hingga sekarang ini,” tutupnya. (*/c1/din)
Editor : Anggi Septian A.P.