RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tulungagung menyimpan banyak mitos yang sampai sekarang masih menjadi misteri, salah satuya cerita pesugihan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo. Pesugihan tersebut dilakukan dengan ritual hubungan badan. Dan dilakukan di makan Roro Kembang Sore, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman.
Makam Roro Kembang Sore di Gunung Bolo sampai sekarang memiliki tuah ghaib. Diperuntukkan untuk pemuja yang ingin mendapatkan kekayaan secara instan.
Para pemuja biasa datang di malam hari, bahkan ada yang siang hari. Mereka datang ke makan Roro Kembang Sore di Gunung Bolo dengan tujuan masing-masing. Pejabat, penyanyi, pedagang menjadi langganan ritual pesugihan tersebut.
Mereka membawa ubo bahkan nasi tumpeng beserta lauk pauk dan wewangian. Setelah selesai melakukan ritual pesugihan di Roro Kembang Sore, mereka harus langsung pulang ke rumah, tidak boleh berhenti atau mampir di sekitaran Gunung Bolo.
Jika pesugihan berhasil, mereka harus kembali dengan menyembelih kambing. Daging kambing tersbut dimasak di tempat dan dikendurikan di Roro Kembang Sore Gunung Bolo. Jika ingin cepat kaya, mereka harus berzina dengan orang yang bukan suami atau istrinya. Sehingga di sekitar Roro Kembang Sore di Gunung Bolo banyak prostitusi berdalih pesugihan.
Konon, ada mitos bahwa jika ke Roro Kembang Sore di Gunung Bolo dilarang membawa pasangan sah. Karena bisa menimbulkan keretakan rumah tangga dab berujung perceraian. Karena Roro Kembang Sore selama hidupnya belum pernah menikah, lalu menjadi sebuah kutukan di Gunung Bolo.
Editor : Nanda Nila Alvinda