Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Rawa Pening di Tulungagung, Ada Campur Tangan Baru Klinthing

Nanda Nila Alvinda • Senin, 7 Agustus 2023 | 20:20 WIB
LEGENDA: Legenda Rawa Pening di Tulungagung diyakini ada kaitannya dengan Baru Klinthing.
LEGENDA: Legenda Rawa Pening di Tulungagung diyakini ada kaitannya dengan Baru Klinthing.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Dulunya, Tulungagung adalah daerah yang sering dilanda banjir, bahkan sebelum namanya menjadi Tulungagung. Nama kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia tersebut bernama Ngrawa karena sebagian wilayahnya berupa rawa.

Salah satu yang terkenal di Tulungagung yaitu Rawa Pening. Isunya lokasi Rawa Pening ada di sekitaran Gua Song Gentong.  Legenda Rawa Pening tak pernah lepas dengan pusaka Tulungagung yaitu Tombak Kyai Upas.

Menurut masyarakat Tulungagung, terjadinya Rawa Pening disebabkan oleh seorang anak kecil jelmaan naga Baru Klinthing yang telah dipotong lidahnya oleh ayahnya. Anak kecil tersebut mengadakan sayembara yakni siapa saja yang bisa mencabut lidi yang ditancapkan di tanah.

Bukan tanpa alasan, anak kecil yang merupakan Baru Klinthing  ini melakukan sayembara karena merasa kesal kepada penduduk di wilayah itu. Karena tidak ada yang mau memberinya makan. Hanya ada satu seorang nenek tua yang bersedia memberinya makan.

Setelah ia menghabiskan makanan, anak kecil ini meminta kepada nenek tua tersebut untuk membuat lesung dan entong kayu. Nenek merasa heran atas permintaan anak kecil itu, meski begitu nenek tetap membuatnya jika sewaktu-waktu diperlukan.

Anak kecil ini lari menuju lapangan desa untuk melakukan sayembara dan menancapkan lidi ke tanah. Sambil mengatakan barang siapa yang mempu mencabut lidi, maka orang itu boleh mengambil nyawanya. Jika tidak bisa mencabutnya maka ia harus memberinya makan. Lama-lama makanan sudah menumpuk dan mengundang amarah warga. Sehinga, meminta anak kecil itu mencabut lidinya. Padahal di awal sayembara anak kecil telah berkata bahwa akan ada bencana jika lidi tersenut dicabut. Karena amarah warga yang tinggi, warga bertekad untuk mencabut lidi tersebut.

Saat dicabut, muncul air mancur dari tempat bekas lidi menacap yang makin lama semakin melebar. Karena tidak bisa menyelamatkan diri, maka penduduk meninggal semua. Hanya ada satu penduduk yang selamat yaitu nenek tua tadi. Nenek menggunakan lesung sebagai perahu dan entong kayu sebagai dayungnya, seperti apa yang dikatakan Baru Klinthing. Sehingga, sampai saat ini lokasi tersebut dinamai rawa pening.

Editor : Nanda Nila Alvinda
#rawa pening #tulungagung #baru klinthing #legenda