RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tulungagung dikenal sebagai Kota Marmer yang melekat pada jati dirinya. Banyak potensi dari mulai wisata, lahan ekonomi, hingga tempat-tempat sejarah mistis. Salah satunya, adanya Goa Pasetran Gondo Mayit. Goa yang terletak tak jauh dari Pantai Sine ini memiliki daya tarik spiritual yang masih melekat hingga saat ini.
Goa Pasetran Gondo Mayit berlokasi di Desa Sine, ada juga yang menyebutkan lokasi tempat spiritual ini berada di Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung. Dan jika menilik tentang sejarahnya, Goa ini merupakan sebuah goa arkeologi masa lampau. Banyak terdapat kikisan batu-batu yang bernilai sejarah, tembikar, hiasan dari cangkang siput dan kapak tipis. Sukirno, selaku Juru Kunci di lokasi tersebut memaparkan bahwa tempat ini pernah menjadi pembuangan mayat warga negara asing saat mereka mendhem/mabuk gadhung.
Secara umum, gadung merupakan tumbuhan yang bisa diolah menjadi kerupuk jika dimasak dengan benar. Namun, jika gadung masih dalam keadaan basah, hal ini dapat menimbulkan racun bagi orang yang memakannya.
Versi lain, Sejarah adanya Goa Pasetran Gondo Mayit ini bermula dari sebuah awak kapal yang mendarat dengan jumlah puluhan perompak yang ingin mengambil istri dari seorang Kyai tersohor saat itu, Ki Demang. Karena istrinya memiliki paras elok nan cantik, para perompak tersebut terkesima. Ki Demang pun menjamunya dengan baik namun dengan niat yang licik. Minuman yang menjadian perjamuan itu dicampurkan dengan air rebusan gadung sehingga dapat membuat mabuk.
Karena penduduk sekitar kesal dengan datangnya para perompak tersebut, mereka pun segera dibantai dalam keadaan mabuk. Sehingga banyak perompak yang tewas dan mayatnya pun perompak ke dalam Goa. Makanya, gua tersebut hingga sekarang dikenal sebagai nama Gua Pasetran Gondo Mayit. Kata Gondo yang berarti “Bau yang Tercium” dan Mayit yang berarti "Mayat". Karena dinamakan Pasetran, banyak masyarakat sekitar yang mempatenkan tempat tersebut menjadi tempat keramat yang dapat dimanfaatkan, salah satunya sebagai sarana pesugihan/minta nazar.
Namun, kini separuh badan Goa tersebut hampir habis karena dimakan longsor. Jika ingin meminta sesuatu, sesajen dapat diberikan dari bibir Goa. Jika berhasil, nazarnya akan terpenuhi, namun jika tidak, maka taruhannya adalah nyawa. Biasanya yang berhasil, melakukan selametan dengan mengorbankan kambing sebagai sesajen pada mahkluk gaib penunggu Pasetran Gondo Mayit.
Editor : Nurul Hidayah