Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ketika Kesenian Tradisional Wayang Orang Bertemu Era Tiktok dan Sosmed, Bagaimana Caranya Bertahan?

Anggi Septian A.P. • Selasa, 8 Agustus 2023 | 16:48 WIB
KREASI: Para pemain seni Wayang  Orang saat tampil di Pendapa Lotu’s  Garden beberapa waktu lalu
KREASI: Para pemain seni Wayang Orang saat tampil di Pendapa Lotu’s Garden beberapa waktu lalu

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Tantangan perkembangan zaman, membuat kesenian wayang orang mulai dikemas lebih kekinian dan durasi yang relatif lebih singkat. Asalkan tidak keluar dari pakem yang diturunkan oleh generasi terdahulu. Termasuk tetap mengedepankan falsafah-falsafah kehidupan dan pesan moral setiap cerita yang dibawakan. Hal ini juga berlaku di Tulungagung.

Salah satu pelaku kesenian wayang orang di Tulungagung, Andi Prasetya berpendapat sudah tidak mungkin dalam sebuah pagelaran seni wayang orang menampilkan cerita yang benar-benar orisinil. Mungkin bisa saja ketika audiensnya berasal dari generasi pre-boomer atau baby boomer atau generasi tua, tapi itu akan membosankan bagi generasi-generasi saat ini.

“Memang harus ada penyusaian, artinya wayang orang harus dikombinasikan dengan unsur-unsur yang menarik perhatian. Misalkan saja lawakannya, tari-tarian baru atau yang lainnya. Sehingga penonton generasi apapun, kalau melihat wayang orang bisa merasa terhibur,” jelas Andi.

Sebagai penulis script wayang orang, pemuda 28 tahun itu selalu menyisipkan adegan-adegan tambahan dalam setiap cerita wayang orang yang digarap. Meski begitu, pakem-pakem yang ada dalam wayang orang tidak bisa ditinggalkan. “Kalau adegan-adegannya hanya diisi oleh orang yang ngomong, itu pasti booring. Kadang kita juga main tembang selain lawakan,” katanya.

Yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana agar wayang orang semakin digemari dan diterima oleh Masyarakat. Itu yang menjadi pemikiran utamanya, karena dewasa ini sudah sangat jarang generasi yang konsentrasi kepada salah satu kesenian jawa itu. Pada akhirnya pelaku kesenian di dalamya mulai harus berfikir formulasi agar kesenian itu bisa terus bertahan ditengah-tengah perkembangan zaman dan teknologi.

Dia melanjutkan satu hal yang juga ada peremajaan dalam wayang orang adalah durasi penampilannya. Jika dulu wayang orang dibawakan relatif lama, kini waktunya dipersingkat namun esensi dari cerita yang dibawakan harus tetap ada. Itu termasuk cara seni wayang orang menjawab perkembangan zaman ini. Termasuk terus melakukan regenerasi dengan mengajak para pelajar maupun pemuda di Tulungagung untuk ikut terjun menekuni kesenian tersebut.

Jika tidak begitu, mungkin kesenian wayang orang di Tulungagung hanya tinggal nama. Andi mengakui butuh dedikasi dan pengorbanan yang banyak demi keinginan melestarikan budaya itu. Tidak hanya waktu, materi dan tenaga pun juga sudah dicurahkannya selama ini. Sementara untuk mengandalkan pemerintah maupun penyandang dana lainnya, itu semua juga tidak bisa dibuat jaminan. “Prinsip saya, jangan mencari kehidupan (uang) melalui kesenian. Kalau masih ada yang mencari keuntungan dari seni, itu menurut saya pemikiran yang salah. Bukan zamannya seperti itu,” katanya.

Kemudian agar wayang orang bisa tetap eksis di dunia digital ini, Andi mulai merambah beberapa media sosial sebagai wadah wayang orang yang dia garap. Beberapa penampilan wayang orang dari cs-nya diabadikan dan diunggah ke media sosial. Harapannya agar masyarakat luas bisa mengenal wayang orang, terlebih yang dibawakan para seniman dan aktor dari Tulungagung ini.

Andi menambahkan, pada dasarnya setiap kesenian dituntut untuk berkreasi menyesuaikan kebutuhan zaman jika ingin terus ada. Toh ada pihak yang mengemban amanat untuk menjaga keorisinalan seni itu yakni beberapa keraton yang ada di Pulau Jawa ini.

“Menurut saya ya, Keraton Yogyakarta maupun Surakarta pun saat ini juga mulai menyesuaikan zaman dalam hal seni. Apalagi kalau di luar keraton, tentunya sangat bisa untuk membuat kreasi masing-masing. Toh tujuannya agar seni dan budaya ini tetap lestari,” tutup lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogjakarta itu.(*/rka)

Editor : Anggi Septian A.P.
#tulungagung #kesenian #wayang orang