RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Di zaman teknologi yang canggih ini, orang dapat menjadi kaya dalam sekejap. Namun, terkadang pada sebaagian orang lebih memilih cara terdahulu untuk meningkatkan kekayaannya. Orang zaman dahulu lebih memilih jalan pintas menuju gerbang kekayaan. Jika bukan dari keluarga terpandang, mungkin sebagian orang akan mengira bahwa dia telah melakukan pesugihan.
Bagi masyarakat perkotaan modern, menganggap pesugihan adalah hal yang mitos. Namun, sebaliknya dengan masyarakat desa sebagian masih menganggap hal-hal sakral memiliki peran aktif dalam penanganan masalah hidup.
Banyak lokasi pesugihan di Tulungagung, yaitu yang sangat terkenal seperti Gunung Giri Bolo atau petilasan Roro Kembang Sore dan TPU Ngujang atau orang biasa menyebutnya wisata kethek an.
Makam kuno yang terletak di Bukit Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman ini dipercaya bila ingin cepat kaya harus bisa melakukan perjanjian dengan melakukan kegiatan seks di tempat makam. Hal ini karena sudah dipercaya untuk memperoleh kekayaan instan.
Dilansir beberapa sumber, banyak orang yang berdatangan untuk meminta keinginan. Hal ini biasanya sering dilakukan pada malam hari. Saat ritual pesugihan, ada persyaratan khusus yang harus ditepati. Salah satunya adalah dengan membawa uborampe dari rumah. Uborampe merupakan sebuah sesajen yang berisi makanan sesaji sebagai bentuk pengabdian. Semua uborampe tesebut dikendurikan di makam Roro Kembang Sore.
Jika peminatanya ingin lekas tercapai, maka orang tersebut harus melakukan hubungan mantap-mantap dengan lawan jenis.
Baca Juga: 5 Mitos Jawa yang Melekat Sampai Saat Ini, No.4 Serem Banget
Entah benar atau tidak, semua itu sangat bergantung pada keyakinan masing-masing. Terlebih lagi, orang yang mengendalikan hawa nafsu akan berujung rugi atau mendapat celaka.
Di dunia ini memang tidak ada yang gratis, tapi dengan kita mempercayakan semua kepada Tuhan Yang Maha Esa maka hidup kita akan tenang dengan rezeki seadanya yang patut untuk disyukuri.