Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Unik Jembatan Plengkung, Gimana Nggak Kokoh Banget? Ternyata Begini

Nurul Hidayah • Senin, 14 Agustus 2023 | 23:18 WIB
Jembatan Plengkung yang berada di Jalan K.H. Abdul Fattah, Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Jembatan Plengkung yang berada di Jalan K.H. Abdul Fattah, Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Jembatan Plengkung sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda. Tepatnya pada tahun 1925 yang berlokasi di Desa Plandaan arah Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Dinamakan Jembatan Plengkung Mangunsari karena merupakan satu-satunya jembatan di Tulungagung yang memiliki plengkung pada kedua sisinya. Jembatan Plengkung tersebut telah menjadi bukti sejarah peradaban Tulungagung yang saat itu masih belum sebesar sekarang.

Pembangunan Jembatan Plengkung dikenang sejak masa koloni yang saat itu mengisyaratkan pembangunan Jembatan Plengkung sebagai penghubung sarana perdagangan agar memudahkan Belanda memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Di suatu hari, ketika Belanda menginginkan lajur lintas pasar dengan tempat pemerintahan harus dipenuhi sehingga tak perlu repot menyebrangi sungai dengan perahu. Belanda yang tak mau bersusah payah itu mengadakan sayembara. Sayembara tersebut beriskan bagi siapapun yang bisa menyebrang sungai dengan kaki akan diberikan hadiah berupa dibangun jembatan.  

Baca Juga: Perbaikan Jembatan Tamanan Dinilai Lelet oleh Warga, DPUPR Trenggalek Sibuk Cari Data

Warga sekitar pun takut mendengar sayembara tersebut. Sehingga banyak yang menyuruh seseorang yang sakti mandraguna, yaitu K.H. Abdul Fattah untuk mengikuti sayembara tersebut. Kemudian, K.H. Abdul Fattah menyanggupinya. Meskipun tergolong sangat jauh, ia berhasil menyebrangi sungai tersebut sehingga Belanda menghadiahinya dengan membangunkannya sebuah jembatan.

Setelah sampai dibangun, K.H. Abdul Fattah memberikan mantra agar jembatan tersebut tidak dapat dihancurkan. Jembatan itu dibubuhi dengan 3 plengkungan yang ada pada 2 sisi jembatan tersebut.

Baca Juga: Bahaya, Tiang Pembatas Jembatan KA di Srengat Reot, Begini Tanggapan Warga

Beralih ke masa pemerintahan Jepang, jembatan tersebut dikuasai telah dikuasai. Belanda kemudian tak terima, kemudian memasang bom di jembatan tersebut. Aneh tapi nyata, ketika bom tersebut telah berbunyi menghancurkan alam sekitarnya, jembatan plengkung tersebut tidak hancur sama sekali. Hal ini disebabkan faktor kokohnya fondasi jembatan plengkung, ditambah lagi dengan pemberian mantra dari K.H. Abdul Fattah.

Kini jembatan tersebut masih berdiri. Namun, hal yang perlu mendapat perhatian adalah di sekitar jembatan tersebut banyak sekali pusat perdagangan muncul. Walaupun banyak jembatan-jembatan baru, namun keberadaan jembatan plengkung masih menyisakan kenangan bagi masyarakat Tulungagung. Utamanya, terletak pada fungsi jembatan ini adalah sebagai penghubung antara dua pasar tradisional, yaitu pasar Wage dan pasar Ngemplak. Selain itu, jalur pemerintahan yang berada di pusat kota juga nampak efektif dijangkau dengan adanya Jembatan Plengkung tersebut.

Editor : Nurul Hidayah
#jembatan Plengkung #sejarah #jembatan #Abdul Fattah