RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Mending dialihfungsikan daripada dibongkar. Hal inilah yang diambil PSHT Rayon Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu. Kemarin (14/8) secara sukarela, mereka menghilangkan ukiran bermotif perguruan pencak silat. Nantinya tugu tersebut akan diisi ikon desa, Pancasila atau pahlawan.
Ketua Ranting PSHT Kecamatan Boyolangu, Didik mengatakan, tugu perguruan silat PSHT yang berada di Desa Sobontoro tersebut akan dialihfungsikan menjadi monumen ikon Desa Sobontoro. Pihaknya menegaskan tugu perguruan silat PSHT tersebut tidak dirobohkan melainkan dialihfungsikan dengan gambar lain. “Bukan dirobohkan tapi dialihfungsikan. Diganti bukan logo organisasi PSHT lagi, tetapi sesuai permintaan masyarakat setempat,” jelasnya kemarin (14/8).
Sebelumnya pihaknya mengaku, tugu perguruan silat PSHT yang didirikan pada 2018 ini juga terdapat sumbangsih dari masyarakat sekitar. Menurutnya banyak peran dari masyarakat dalam pembangunan tugu tersebut. “Pembangunan tugu itu juga dibantu masyarakat, baik mengenai dana dan juga lainnya,” ucapnya.
Berdasarkan hasil koordinasi, dia mengaku bahwasannya masyarakat setempat keberatan apabila tugu PSHT tersebut dibongkar total. Alhasil pada koordinasi tersebut membuahkan hasil yang mana tugu PSHT akan dialihkan menjadi ikon Desa SobontorO. Diketahui pihaknya memaklumi adanya kebijakan pemerintah perihal tugu perguruan silat tersebut. “Tanah ini juga milik Desa, jadi ya kita serahkan ke Desa. Dialihfungsikan menjadi ikon desa. Adanya tugu ini justru didukung masyarakat,” paparnya.
Disinggung ihwal kenapa memperbolehkan tugu perguruan silat PSHT di Desa Sobontoro dialihfungsikan, dia mengaku bahwasannya pihaknya mengikuti instruksi dari kebijakan pemerintah. Adapun pertimbangan tersebut mengerucut lebih baik tugu PSHT dialihfungsikan daripada dibongkar begitu saja. “Kita mengikuti aturan dari pemerintah, daripada dihancurkan. Kita kemarin membangun tugu ini juga bersusah payah dengan biaya sendiri. Akhirnya kita alihfungsikan supaya desa yang memiliki,” ungkapnya.
Kemudian disinggung perihal adakah perdebatan dalam internal perguruan pencak silat PSHT, dia menegaskan bahwasannya ada perdebatan sebelum hasil final alih fungsi tugu tersebut. Dia mengaku perdebatan dalam hal ini merupakan hal yang lumrah lantaran anggota perguruan PSHT di ranting Kecamatan Boyolangu mencapai ribuan lebih pesilat. “Ada, karena anggota kita juga banyak sekitar seribu lebih mungkin yang satu merasa keberatan. Tapi dengan koordinasi dan penuh pertimbangan, akhirnya semuanya bisa menerima keputusan ini,” tutupnya.
Sementara itu, Kapolsek Boyolangu, AKP Tri Nuartiko mengatakan, pihaknya melibatkan seluruh unsur dalam proses pengaman alih fungsi tugu PSHT di Desa Sobontoro tersebut. Tak hanya itu, pihaknya juga sangat mengapresiasi keputusan yang diambil oleh perguruan PSHT ranting Boyolangu tersebut. “Teman-teman dari PSHT Sobontoro ini sadar akan himbauan dari pemerintah daerah maupun provinsi. Mungkin nantinya yang semula simbol dari perguruan silant menjadi simbol Pancasila atau gambar para pahlawan kemerdekaan,” pungkasnya.(ziz/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.