Sarasehan Budaya di MBK Bung Karno Blitar
“SELAMA INI nampaknya kita selalu memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus, padahal tanggal tersebut (17 Agustus) merupakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Marilah kita cek pada teks Proklamasi kemerdekaan seperti yang dibacakan oleh Bung Karno. Baru keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai syarat sahnya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Oleh karena itu alangkah idealnya bila memperingati hari kemerdekaan Indonesia itu dua tanggal itu yaitu tanggal 17 Agustus sebagai kemerdekaan bangsa Indonesia dan tanggal 18 Agustus sebagai kemerdekaan negara kita,” ujar budayawan Ki Wawan Susetya dalam sarasehan budaya Sosialisasi Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan tema “To Build The World a New”(Membangun Dunia Kembali) di Amphiteater Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar, Kamis malam (10/8) lalu.
Sarasehan budaya tersebut dilaksanakan kerjasama antara Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan ForSabda (Forum Sarasehan Seni & Budaya) Tulungagung dan Paguyuban Seni Budaya Blitar Kawentar. Dalam sarasehan budaya yang dibuka oleh Bapak Hartono, pustakawan utama Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar tersebut dihadiri sekitar 150-an orang dari berbagai komunitas seni-budaya, para mahasiswa dan masyarakat umum.
Lebih jauh Ki Wawan mengatakan bahwa selama ini doa-doa yang dipanjatkan dalam peringatan HUT (hari ulang taun) kemerdekaan selama ini dilakukan pada momentum kelahiran atau kemerdekaan bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan negara kita. Itulah sebabnya ia kemudian mengajak kepada pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mengadakan selamatan dalam peringatan kemerdekaan RI tersebut pada dua tanggal itu, yakni tanggal 17 dan 18 Agustusyang diharapkan mendapat keselamatan pada bangsa dan negara kita.
Nara sumber pertama dalam sarasehan budaya itu Budi Kastowo, S.E (pustakawan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar) yang mengajak kepada audience untuk memaknai secara mendalam mengenai arti peringatan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Dalam kesempatan itu Budi Kastowo mengungkap kembali mengenai Pembukaan UUD 1945 mengenai makna perjuangan pergerakan kemerdekaan yang telah sampai dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dalam kesempatan itu Budi Kastowo mengajak kepada audience yang hadir dalam sarasehan budaya untuk merenungkan, jika demikian apa itu arti kemerdekaan? “Setidaknya Anda jawab sendiri ketika di rumah, misalnya dalam waktu 10 menit, apa itu arti dan makna kemerdekaan bagi Anda?” kata Budi Kastowo ditujukan kepada hadirin.
Lalu, Budi Kastowo memberikan benang-merah dari pernyataan Bung Karno mengenai kemerdekaan bahwa kemerdekaan itu adalah kebebasan untuk merdeka. Artinya, setiap bangsa merdeka harus punya kebebasan untuk menentukan politik nasionalnya sendiri. Atau, bagi Bung Karno, kemerdekaan nasional adalah suatu kebebasan untuk menjalankan utusan politik, ekonomi dan sosial kita sejalan dengan konsepsi nasional kita sendiri tanpa dihalang-halangi oleh tekanan-tekanan atau campur tangan dari luar.
Pembicara kedua yaitu Henni Indarriyanti, SE, M.Ap, M.Akun, Ak (Pustakawan Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar) yang mengangkat tentang Bung Karno dan Nasionalisme serta Internasionalisme dalam ‘To Build The World a New’. Pidato Bung Karno tersebut merupakan salah satu pidato yang sangat fenomenal karena disampaikan pada Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) di Amerika Serikat tanggal 30 September 1960. Dan, pidato Bung Karno yang berjudul ‘To Build The World a New’ tersebut ditetapkan oleh UNESCO sebagai ingatan kolektif dunia.
Henni kemudian menguraikan makna Nasionalisme dan Internasionalisme sebagaimana yang disampaikan dalam pidato Bung Karno ‘To Build The World a New’ yang menggetarkan dalam Sidang Umum PBB tahun 1960. Selain mengupas nasionalisme dan internasionalisme, gagasan Bung Karno dalam pidato tersebut juga mengenai membangun dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.
Dalam kesempatan itu, Henni juga menyatakan bahwa dalam pidato tersebut Bung Karno juga menawarkan Pancasila sebagai ideologi internasional. Sebab nilai-nilai Pancasila tidak hanya bersifat nasional keindonesiaan saja, tetapi bersifat universal dan internasional.
Selanjutnya narsum Cak Purwanto, budayawan Blitar Kawentar yang mengajak kepada para audience untuk memaknai kembali mengenai pesan Bung Karno dalam Trisakti; yakni berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya. Secara umum, Cak Purwanto mengkritisi bahwa dari tiga pesan Bung Karno dalam Trisakti tersebut sampai sekarang masih jauh dari harapan. Artinya, untuk mewujudkan pesan Trisakti Bung Karno tersebut, maka dibutuhkan kesungguhan dalam pelaksanaannya.
Bung Karno Dan Islam
Narsa sumber terakhir Dr. M. Teguh, akademisi UIN SATU Tulungagung yang berbicara mengenai Nasionalisme dan Islamisme Bung Karno. Sebelum memulai bicara mengenai tema itu, Dr. Teguh melantunkan sebuah Tembang Pangkur karya KGPAA Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama terlebih dahulu:
“Mingkar-mingkuring angkara,
Akarana karenan mardisiwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba-sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,
Kang tumrap ing Tanah Jawa,
Agama ageming aji.”
Tembang Parkur tersebut dimaksudkan oleh Dr. Teguh untuk mengilustrasikan mengenai Islamisme Bung Karno yang lebih berorientasi pada ‘Agama ageming aji’ atau Islam esoteris. Bung Karno sebagaimana diketahui secara umum tidak mengenyam pendidikan di pondok pesantren (ponpes) dalam mempelajari Agama Islam, sehingga memang tidak terlalu ketat dalam wilayah syareat. Merskid demikian Bung Karno pernah belajar Agama Islam melalui guru politiknya HOS Cokroaminoto, pendiri Syarekat Islam (SI) yang semula SDI (Syarekat Dagang Islam) ketika kos (mondok) di rumah beliau (HOS Cokroaminoto) di Surabaya. Selain itu, Bung Karno juga pernah belajar Agama Islam secara intensif kepada A. Hassan, tokoh Persis (Persatuan Islam) Bandung.
“Meski demikian, Bung Karno sangat concern pada Agama Islam terutama dalam menggelorakan semangat Api Islam,” papar M. Teguh.
M. Teguh juga menandaskan bahwa pemahaman Islam Bung Karno lebih ke arah esoteris; pemahaman yang lebih berorientasi pada kebersihan hati dalam memandang Allah (bermakrifat kepada Allah). Itulah sebabnya Bung Karno pernah mengatakan bahwa Allah senantiasa hadir dalam dirinya, bahkan Dia (Allah) seringkali memenuhi doa-doanya.
Dalam hal ini, Ki Wawan menambahkan bahwa Bung Karno remaja pernah bersilaturahmi kepada Kyai Syaihona Kholil di Bangkalan. Pada kesempatan itu Sang Kyai (Syaihona Kholil) menyuruh Bung Karno untuk mangap (membuka mulut) lalu diidoni (diludahi) oleh Sang Kyai. Itulah ekspresi transfer ilmu yang dilakukan oleh Kyai Kholil, sehingga kelak Bung Karno dikenal sebagai orator atau ahli pidato, bahkan dikenal sebagai “macan podium”.
Selain itu ada riwayat lagi bahwa Bung Karno sewaktu masih muda pernah belajar kepada Ki Sosrokartono, seorang pujangga kenamaan yang terkenal dengan ujaran: “Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake.” (Wawan Susetya).
Editor : Didin Cahya Firmansyah